Back to Nature to Madura

Hello good readers, genki desu ka?

Udah lama nih enggak exist di blog kesayangan, pasti pada nanyain ya gue kemana? Pastinya pada kangen bercampur cemas kan? Emang sih gue orangnya selain imut juga ngangenin. okehh cukup!

Alasan gue belum posting lagi, karena beberapa dekade yang lalu gue sedang menjalani masa liburan kuliah. Setelah 'bermumet-mumet' dengan soal-soal kalkulus yang ternyata lebih abstract dari wajah mantan. Well, saat itu juga gue memutuskan untuk ikut kakak gue ngebolang.

..Madura..

Ya, itulah tempat yang gue tuju kali ini. Berjarak sekitar kurang lebih 900 KM dari Jakarta. Memakan waktu sekitar 16 jam jika menggunakan bus. 9 jam dengan menggunakan kereta, turun di stasiun pasar turi dan transit dengan angkutan umum ke Madura. Sedangkan, 1 jam 30 menit menggunakan pesawat dari Jakarta menuju bandara Trunojoyo di Sumenep.

Jika lewat jalur darat kalian akan berjumpa dengan pemandangan yang sangat amajiiing bin ajib. Dengan panjangnya yang mencapai 5,438 M, berdiri tegak menantang nan kokoh, yaitu jembatan 'Suramadu'. Jembatan yang menghubungkan antara pulau jawa dan madura ini, menjadikannya jembatan terpanjang di Indonesia saat ini.


Madura, tempat yang jarang jadi tujuan wisata ini menyimpan banyak keindahan didalamnya. Alasan kenapa tempat wisata di Madura kurang terkenal, mungkin karena sistem adat dan keagamaan yang masih sangat kental... 

...Sekental cinta kuhh pada mu. Aseekkk..

Intinya selama gue disini jarang banget bahkan tak pernah melihat seorang bule sekalipun. Katanya sih, emang para ulama di madura masih belum setuju dengan kehadiran orang asing, terutama orang bule.

Bahkan konon katanya nih, tidak ada satu pun gereja di Madura, karena memang mayoritas orang madura adalah orang islam dan keislamanya tidak usah diragukan. Tapi, sekarang sudah mulai ada gereja disana, mungkin sifat toleransi beragama sudah mulai tumbuh disana. 

" Kak, ini orang madura pada abis sunatan ya? Pada make sarung semua" tanya gue.
"Swiiingggg, bruakkkk" pukulan sayang tepat bersarang di muka imut gue.
"Bukan abis sunatan, emang adatnya kayak gitu!!!" jawab kaka gue dengan sinis.

Hmm... Saat itu juga gue berfikir kalau orang madura ikutan lomba main bola pakai sarung pasti menang... Hmmm

Pokoknya sepanjang mata memandang kalian akan melihat sarung-sarung liar berkeliaran. Baik itu dipasar, orang naik motor, kang parkir, semunyalah pokoknya. Kecuali pegawai and pak pocis ya, ya kali pocis pake sarung.. Hadeeh..

Banyak sekali pondok pesantren di pulau madura ini, bahkan rata-rata orang Madura adalah lulusan pondok pesantren. Oleh karena itu, enggak usah shock liat orang Madura hafal yasin. Orang yang hafal Al-Quran aja berceceran banyaknya. 
Penunjuk arah menuju salah satu makam yang dikeramatkan.
Dikarenakan agama yang masih cukup kental, gue sering melihat banyak makam yang dikeramatkan. Baik itu makam para wali, kyai, dan lainnya, pokoknya makam-makam orang alim dan sakti mandraguna pada jaman dulu. Karena gue gak dibolehin untuk foto makamnya, takut fotonya blur atau terjadi sesuatu, jadi gue foto plang-nya aja ya sebagai oleh-oleh.

Konon katanya disalah satu jalan dekat tempat gue menginap, ada sebuah jalan yang tak bisa dilewati tanpa izin. Orang penunggan kuda ataupun pesepeda ketika melewati jalan itu akan mental atau terjatuh, karena jalan tersebut hanya bisa dilewati dengan berjalan ataupun seizin para ulama di sekitar daerah tersebut. 
Karena gue bukan holiday di kotanya, sesuai dengan tema kali ini yaitu 'Back to Nature'. So, mau gak mau ya gue hidup di pedalaman Madura, tapi gak terlalu pedalaman juga sih. Let's enjoy this holidayyy...

Bentangan persawahan dan ladang jagung pun seakan telah menyambut gue. Dengan pemandangan yang hijau nan asri, membuat gue melupakan sejenak suntuknya kehidupan kota. Menyegarkan diri dengan udara yang segar untuk dihirup dan memanjakan mata yang selama ini diisi dengan layar laptop berganti menjadi layar tumbuhan hijau yang membentang.
Blackberry khas madura yang langsung dipetik dari pohonnya.
Selama gue disini banyak banget tumbuhan yang gue temuin dari buah-buahan sampai sayur-mayur semua lengkap ada disini. Well, gak usah takut kelaparan, ada buah tinggal sikaaat. Tapi numpang-numpang dulu ya, tar yang ada abis makan malah modar lagi...


Nasib ayam kampung
Bahkan, gue makan ayam kampung, asliii langsung dari ayam yang lagi enak-enak lari kesana kesini bercanda dan kongko-kongko dengan kawan-kawan satu genknya. Tiba-tiba langsung ditebas dan berakhir di tungku kuali. Mungkin kalau ayam bisa ngomong mereka udah demo dan berunjuk rasa saat itu. 
Jagung, kelapa maupun tumbuhan lain terlihat lebih pendek dibandingkan yang biasa gue lihat. Itulah istimewanya tumbuhan disini, walaupun pendek, buahnya telah masak. Pohon kelapa setinggi 2 meter saja sudah dapat dipanen buahnya. Selain itu, selama perjalanan sering kali gue melihat pohon lontar, bahkan buah yang jatuh dan membusuk tak dihiraukan orang. 

Mungkin kalau di Jakarta udah diambil and dijual-jualin kali di emperan jalan...

Para penduduk yang terlihat dari kejauhan sedang mengarit rerumputan untuk mengumpulkan pakan sapi. Sedangkan yang lain sibuk mengumpulkan ranting-ranting pepohonan sebagai bahan bakar memasak mereka. Ya, penduduk sini kebanyakan masih menggunakan kompor berbahan bakar kayu.

Penduduk disekitar sini sangatlah ramah, walaupun kalian orang asing mereka akan menyapa. Bahkan, gue lagi markirin motor duduk-duduk dipinggir jalan, tiap orang lewat pasti nyapa gue. Serasa orang famous sih disini. Bahasa permisi orang sini adalah 'pamit' atau disingkat 'amit', terkadang gue iseng ngomong 'amit-amit'...hehe

Disela-sela perjalanan gue melihat suatu tempat yang cukup menarik. Yups, itu adalah sumur yang berada di tepi jalan. Kenapa bisa ada sumur?
Selain menggunakan sumber mata air, penduduk asli sini memanfaatkan sumur sebagai sumber air bersih. Well, siapa tahu ada rejeki nomplok lihat bidadari cantik lagi mandi di sumur, sembari menyiprat-nyipratkan air dan bercanda ria dengan suara yang lugu nan menggemaskan, dengan rambut yang digerai tertiup angin seperti di iklan-iklan shampoo  di tv...

...Tetapi kenyataan pahit yang gue lihat adalah bapak-bapak dengan kumis tebel sedang bercanda ria nan menjijikan, sedang memandikan anaknya...

Okay, lupakan tentang bapak-bapak kumisan tadi. Selama di perjalanan gue sering menjumpai orang-orang yang lanjut usia, bahkan terbilang udah sangat tua. Ya, you know lah orang kampung, makanan masih alami, tiap hari kerjaannya jalan, gimana gak panjang umur. Bahkan, gue masih sering melihat lansia yang sedang mengarit rumput atau mengumpulkan kayu bakar. Emang orang-orang sini pada gak bisa diem, padahal udah tua masih aja gerak. Gue aja kewalahan ngikutinnya.

Untuk umur gak usah ditanya mereka bener-bener udah lupa sama umur, saking tuanya kali ya, pokoknya mereka hidup dari jaman belanda masih menginvasi Indonesia, itulah yang mereka ingat. Sedangkan untuk bahasa sendiri jangan harap ngomong bahasa Indonesia, mereka gak akan ngerti, namanya orang tua.

...Disinilah saatnya menggunakan keahlian bahasa gue yaitu bahasa tubuh...



Inilah penampakan rumah-rumah penduduk disini, tembok bilik dengan lubang-lubang kecil yang dijadikan pelindung ketika malam tiba, dengan genteng-genteng tua sebagai pelindung ketika hujan turun. Ya itulah indahnya rumah-rumah tradisional yang ada disini. 

Setiap rumah yang ada disini memiliki lahan yang luas, karena yang tinggal lebih dari satu kepala keluarga, istilahnya berkelompoklah. Ditambah lagi, setiap rumah memilik 'Langgar' ya semacem mushollah gitu deh, selain untuk sholat langgar digunakan untuk berkumpul.  

Penampakan Kamar mandi penduduk disini
Hebatnya lagi setiap rumah kamar mandinya berada diluar, karena dapat digunakan secara bersama-sama. Istilahnya seperti kamar mandi umum lah. Uniknya kamar mandi ini tidak termasuk toilet, toilet terpisah agak jauh dari kamar mandi, letaknya di sekitar semak belukar. Yak, tepat, toiletnya berupa 'kakus' you know lah kakus bentuknya gimana...
Anak sapi
Harta orang sini adalah sapi atau dalam bahasa madura 'sapeh'. Hampir setiap rumah yang gue lewati memiliki kandang-kandang untuk memelihara salah satu hewan qurban ini. Tau sendiri harga seekor sapi satunya bisa seharga motor ninja. 


Selain menjadi petani, tentunya pekerjaan sampingan penduduk sekitar sini adalah membuat kerajinan batu bata. Dengan pengolahannya yang masih sangat sederhana, batu bata ini dapat dijual seharga Rp 500 perak satunya, lebih mahal dari yang ada di Jakarta tentunya. Karena batu bata yang ada disini jauh lebih besar, ketimbang yang sering kita lihat. Batu bata ini dijadikan sampingan oleh warga sini..

...itung-itung sampingan lah untuk credit mobil.. 
Satu lagi yang gue kagumin dari orang-orang yang ada disini adalah mental dan nyali mereka, bayangkan berjalan sendirian di tengah semak belukar bahkan bisa dibilang hutan. Kalau siang sih it's oke, kalau malam tanpa ada penerangan hanya bermodal senter dan clurit, mereka keluar untuk menghadiri pengajian atau hanya sekedar berjalan ke masjid ataupun warung.

Kalau gue mah udahnya nyerah dan melambaikan tangan kali, disuruh keluar malam-malam. Hayatiiii atut banggggg....



Selama disana gue iseng-iseng berjalan kesana kemari, alhasil gue tersesat disuatu dataran tinggi. Madura memiliki banyak dataran tinggi, bisa dibilang bukit. Kalau gunung kayaknya gak ada sih. Tapi pemandangan dari atas sini ga jauh beda dari puncak bogor.

Hanya saja udaranya tetaplah panas, itulah yang membuat gue penasaran, walaupun berada di atas bukit udaranya tetaplah panas. Kalau kalian merasa Jakarta udah panas, silahkan datang ke Madura dan nikmati hangatnya matahari yang terasa sampai ke ubun-ubun.


Katanya, jaman dahulu Madura ini adalah daratan yang ada didalam laut, dengan proses ini itu yang rempong, akhirnya dataran ini muncul ke permukaan. Teori ini bisa dibuktikan, masih ditemukannya batuan yang menyerupai terumbu karang yang berada di puncak-puncak bukit. Itu sih yang gue lihat selama berada di atas bukit sini. Jadi kalau dipikir-pikir teori itu masuk akal... 

...seperti biasa, sok tau aja sih gue.


Ya, itulah perjalanan selama gue di Madura, intinya banyak pelajaran yang gue ambil dari liburan kali ini. Pokoknya Madura mengajarkan gue banyak hal yang tak bisa gue temukan di kota-kota besar. Pengalaman berharga selama disini bakalan terus gue ingat dan jadi acuan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Terkadang menjadi tradisional itu perlu di jaman yang sudah serba modern ini.


Bonus rujak khas Madura, masih super alami bahan-bahannya.
See you on the next article guyss. I love youuu.

"sometimes we have to look down to appreciate what god has given to us. Sometimes, Being simple teach us a lot of things to be a good person"

Inilah Fakta Unik Mengenai PLTU Paiton

Berhubung kemarin gue membuat article mengenai Study Tour to Bali dan disitu gue menyinggung tentang kehadiran si PLTU Paiton ini. Dan lagi, kebetulan kampung gue yang terletak di Banyuwangi, memaksa gue melewati PLTU ini setiap kali gue melewati jalur Pantai Utara (Pantura). 


...So, mari kita telisik lebih jauh mengenai si Paiton ini, semua akan dikupas secara tajam, setajam silat !!..

 Apa itu PLTU ?
P = embangkit
L = istrik
T = enaga
U = ap

Jadi, PLTU itu adalah Pembangkit Listrik Tenaga U..U..Udaaang. Jayus!

PLTU Paiton?
Alasan kenapa dinamakan 'Paiton' karena lokasinya yang terletak di daerah paiton, desa Binor, Probolinggo, Jawa Timur. Selain itu, berbatasan dengan Selat Madura di sebelah utara, Kecamatan Kraksaan di sebelah barat, serta Kabupaten Situbondo di sebelah Timur. 


Jika kalian melewati jalur pantai utara menuju bali, tentunya akan melewati pembangkit yang satu ini. Kesan pertama gue melihat paiton, pastinya norak, kudet, apalah ituuu. Intinya, gue bener-bener takjud, karena memang keren abis sih tempatnya. Yaaa, buat selfie-selfie ala anak alay-alay yang cuci-cuci jemur-jemur, it's okehhh lahh..

Tak jauh dari tempat tersebut, apabila kalian telah melewati paiton, kalian akan disuguhkan dengan pemandangan tepi laut yang sangat indah, dihiasi dengan rimbunnya pohon mangrove dan kepiting-kepiting yang lagi party ditepian mangrove. Ditambah lagi, jarak antara jalan dengan tepi laut benar-benar dekat, bener-bener pemandangan yang 'Amajinggg' deh pokoknya.... 

Paiton ini cukup unik karena letaknya yang cukup strategis, yaitu dipinggiran pantai .Ditambah lagi jika kalian belum melihatnya secara langsung, kalian pasti akan terkagum-kagum dengan keindahannya dan besarnya pembangkit yang satu ini.


Usut punya usut, sistem pembangunan PLTU Paiton ini, seperti pulau-pulau buatan yang ada di Dubai, Qatar. Karena di bangun diatas 'urukan' pasir, batu kali dan material lainnya. Jadi tidak heran dengan bentuk datarannya memiliki tampilan yang unik dan indah. 


Ya, memang pembuatanya dirancang diatas daratan yang telah dirancang oleh manusia. Itulah salah satu kehebatan dan kehindangan dari si salah satu pemasok listrik untuk pulau jawa-bali. 


Pembangkit yang di miliki oleh PT Paiton Energy ini resmi beroperasi pada tanggal 12 Maret 2012. Kemunculan PLTU yang satu ini sangat berdampak pada pasokan listrik yang berada di pulau Jawa dan Bali. Denger-denger sih katanya, Paiton merupakan PLTU terbesar di Indonesia dengan memasok asupan listrik untuk pulau Jawa-Bali sebesar 815 Mega Watt (MW). 

Menurut survey dan data yang gue peroleh, untuk menghasilkan pasokan listrik yang sangat besar tersebut dan menghidupi listrik di pulau Jawa-Bali. Paiton tidaklah menggunakan BBM, melainkan batu bara, karena pasokan batu bara di Indonesia sangatlah melimpah. PLTU Paiton ini membutuhkan batu bara setidaknya 3.5 juta ton/tahun.

...Itu kalau di Rupiah-kan, mungkiiin gue bisa beli cimol sampai ke anak-cucu gue. Hmm...

Menurut data hasil survey gue selama 1 dekade, tenaga kerja yang terserap di PLTU Paiton 3 sebanyak 7.000 orang yang sebagian besar atau 95% penduduk lokal, sedangkan 5% penduduk dari luar Probolinggo dan asing. Sedangkan setelah beroperasi tenaga kerja yang terserap sebanyak 387 orang yang mayoritas atau 90% penduduk Probolinggo dan 10% penduduk dari luar Probolinggo dan asing.


Belum lagi ditambah dengan, para pekerja yang berasal dari luar, mau tak mau mereka harus menyewa sebuat tempat untuk mereka menetap dan bertempat tinggal. Lagi, pihak penduduk lokal yang diuntungkan, karena mereka dapat menyewakan rumah mereka, hitung-hitung penghasilan tambahan.

Belum lagi warung, rumah makan, rumah singgah, rumah remang-remang, bahkan rumah-rumahan.. Enggak deng, canda-canda...hehe

Menurut data yang gue peroleh dari hasil copy and paste, banyak warga yang menyewakan rumah untuk karyawan maupun mitra kerja PLTU Paiton. Tarif sewa untuk satu rumah bervariasi, yakni terendah Rp 16 juta hingga tertinggi Rp 25 juta/tahun. 

Intinya dengan adanya PLTU Paiton ini, benar-benar menarik dan memberikan banyak keuntungan bagi warga sekitar. Selain aliran listrik yang merata dan ditambah lagi dengan pundi-pundi emas yang merata pula. 


Oh ya, pemandangan paiton di siang hari dan malam hari sangatlah berbeda. Sedikit luangkan waktu kalian, jika kalian berkunjung ke tempat ini dan lihat lah perbedaan Paiton di siang hari dan malam hari.


Dimana jika malam telah menyosong, paiton akan berubah wujud menjadi pembangkit yang dipenuhi dengan sorotan lampu-lampu yang menghiasi. Terang benderang ditengah kegelapan malam. Keindahan akan lampu-lampu yang menghiasi paiton, melebihi indahnya wajah sang manta di pagi hari.. eyaaa..

Tambahan:

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya sekitar bulan februari lalu. Menurut kabar, ada seekor hiu paus atau Rhincodon terseret dan terjebak di dalam kanal PLTU Paiton. Menurut beberapa pendapat ahli, terseretnya hiu paus ini dikarenakan gelombang laut yang besar dan menyebabkan sang hius paus terjebak di kanal selama beberapa waktu dan pada akhirnya mati.


Upaya penyelamatan telah direncakan, akan tetapi mungkin karena penyelamatan yang agak lama dan faktor medan yang tak memungkinkan. Menyebabkan hiu paus ini mati. Penyebab kematiannya sejauh ini dikarenakan luka yang diterima, menyebabkan daya tahan tubuh sang hiu paus menurun dan ditambah lagi dengan infeksi jamur. 

Hiu paus tutul ini merupakan salah satu hewan yang dilindungi oleh pemerintah indonesia. 


Begitulah mengenai fakta unik PLTU Paiton dibalik kemegahan dan keindahannya, semoga menambah wawasan good readers sekalian..

As usual. See you one the next article.. I love u.

Study Tour to Bali

Flashback dulu ya good readers ke 3 tahun yang lalu. Saat itu gue masih duduk di bangku kelas 11, SMAN 13 Jakarta Utara. Ya, intinya masih imut-imut gimana gitu, dengan tampang yang belum penuh dosa dan tentunya dengan kelakuan yang penuh dengan dosa.

Wajah imut gue waktu SMA
...tuh imutkan imutkan gueeee... 

It's Enough! Lupakan sejenak tentang keimutan dan kewibawaan gue di masa lalu. 

Saat itu, kalau tidak salah sekitar bulan December, sekolah gue mengadakan acara study tour selama seminggu ke Bali. Kenapa diadakan kelas 11? Berhubung jika dilaksanakan ketika kelas 12, pastinya sibuk untuk mempersiapkan UN dan masuk University. Jadi acara wisata dari sekolah ini diadakan ketika gue kelas 11. 

Dari judulnya saja 'Study' pastinya acara ini diadakan untuk belajar dan mencari pengalaman, 'Tour' sembari belajar tentunya untuk wisata dan liburan. Intinya acara ini diadakan untuk belajar diluar ruangan dan sembari liburan. Walaupun kenyataanya, banyakan Tour-nya dari pada Study-nya sihh.

Untuk perjalanan kali ini, sekolah gue menyewa beberapa bus, Padahal gue berharapnya sih pesawat yang disewa. Waktu itu, start dari sekolah sekitar jam 8-9 pagi, sedangkan perjalanannya sendiri menghabiskan waktu sekitar 2 hari. Kebayangkan gimana rasanya duduk selama dua hari...Coba sekarang kalian bayangkan !!!

....Bahkan, pantat gue beratnya turun sampai 2 kg. Kalau mereka bisa berbicara, mungkin mereka sudah berkumpul membentuk aliansi Perserikatan Pantat-Pantat (PPP) dan ber-unjuk rasa di dalam bus "turun kan kami..turun kan kami..turunkan kami". Pantat gue yang dulu imut, mungil, dan menggemaskan, setelah turun dari bus bentuknya abstract, bahkan terbilang six pack...

Tapi urusan pantat tadi terbayar dengan pengalaman selama berada di bus. Selama perjalanan gue bisa melihat pemandangan yang sangat indah dari setiap tempat yang gue lewati. Semua pemandangan yang tidak pernah gue lihat selama di Jakarta. Pepohonan indah menghiasi setiap jalan yang kita lewati. 


Jajaran pegunungan yang serentak seperti menyambut dan melayani kami selama perjalanan. Setiap kota yang telah kita lewati, memiliki bentuk dan ciri khas masing-masing. Begitu pula ketika kami melewati pinggiran pantai utara. Lautan luas yang terbentang dengan kebiruannya menambah kesan indah untuk memanjakan mata. Likuk-likuk sungai yang panjang menjadi sentuhan terakhir untuk kami nikmati selama perjalanan.


Seraya menghilangkan penat dan bosan ketika harus berlama-lama duduk di dalam bus, guyonan demi guyonan dilontarkan oleh kawan-kawan gue. Nyanyian demi nyanyian, bungkusan demi bungkusan makanan semua di libas abis tanpa sisa. Alunan gitar dan suara-suara merdu dicampur dengan suara cempreng Faqih kawan gue, menghiasi perjalanan gue. Pizz qih just kidding.... 

Kelakuan si Topik
Ditambah lagi dengan kemahoan Topik, Sule, Rama, Heru, Ucok dan Chamdani, semakin lengkap ini bus jadi tempat hiburan prostitusi. Saking mahonya nih...

"ahhh...ohhh"
"ohh yaaaa.."
"yeahh bebeh.."
"ohhh may.. yooo.. ohh may yoo.."
Si bayi Dugong Sule
...Itulah desahah-desahan yang menjadi soundtrack bus gue dan kawan-kawan gue kala itu, bahkan jadi ciri khas bus kami. Emang kelakuan temen-temen gue yang otaknya udah pada geser sih. So, jangan shock kalau melihat kami dijalan...

Emang gak kerasa sih perjalanan yang memakan waktu 2 hari pada saat itu, karena didalam bus kami menikmatinya dengan cara yang bisa dibilang gokil sih. 

Selama perjalanan kami melewati tempat-tempat yang sangat menawan bahkan rasa-rasanya ingin turun dan mengambil foto sejenak, Karena jalur yang kami lewati adalah jalur pantai utara, oleh karena itu kami dapat melihat langsung sisi laut yang begitu dekat dengan jalan utama, pemandangan ini jelas ketika kami berada di sekitar jawa timur. 


Tampak PLTU Paiton dari kejahuan yaitu sebuat pembangkit listrik tenaga uap yang berada di pulau jawa, lebih tepatnya di Paiton, Desa Binor, Probolinggo, Jawa timur. PLTU yang katanya menjadi sumber pembangkit listrik untuk Jawa Timur dan sekitarnya ini. Telah lama didirikan oleh pemerintah, untuk mendukung kebutuhan listrik yang berada di Jawa Timur. 


Waktu itu sih gue takjud banget dengan penampakan PLTU yang satu ini, selain besar letaknya yang berada di pesisir laut, menambah kesan indah. Apalagi, jika kalian melihatnya dimalah hari. Hebatnya, waktu itu gue lihat ini PLTU, air laut yang berada disekitaran PLTU masih sangat biru, tanpa tercemar apapun. Pokoknya the buesssttt bgt dah waktu gue melihatnya pertama kali.

More info about Paiton.. Check this out.


Singkat cerita dari kejahuan mulai tampak plang penunjuk jalan, kalau rombongan kami akan tiba sebentar lagi di pelabuhan Ketapang. Sebelum sampai ke Bali, kita harus menyebrang melewati pelabuhan Ketapang untuk sampai di pelabuhan Gilimanuk yang ada di Bali. Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk ini terbilang sangat bagus, dengan warna laut yang biru sekali. 
Yusef sama chibi
Keren abiezzz deh ini pelabuhan...

Ucok tampang sangar hati mah Hello Kitty
Disini juga kalian akan menjumpai, anak-anak pantai yang rela menyelam ke dasar laut. Hanya untuk sekedar koin-koin yang kita lemparkan. Seperti yang ada di tv-tv itu lohhh. Lempar saja koin kalian, dengan sigap mereka akan langsung menyelam mengambil koin yang kita lemparkan. 

Akhirnya tibalah kami di Bali.... We're ready to rock !!!!

Untuk kelanjutan cerianya, bisa kalian simak di article berikutnya ya.. Biar kayak di pilem-pilem gitu, bikin penasaran dulu..

See you on the next article good readers. I love you... :*


Komunitas Earth Hour Indonesia


Earth Hour itu apa sih?
Jadi Earth Hour itu adalah kampanye inisiasi publik yang menyatukan masyarakat dari seluruh dunia untuk merayakan komitmen gaya hidup hemat energi dengan cara mematikan lampu dan alat elektronik yang sedang tidak dipakai selama 1 jam.

Apa sih arti logo Earth Hour?
Logo EARTH HOUR ’60+’ menunjukkan 60 menit mematikan lampu di Earth Hour sebagai awal AKSI gaya hidup hemat energi. Tanda ‘+’ menunjukkan komitmen untuk bersama-sama mulai melakukan gaya hidup hemat energi.

Terus, apa tujuan dari Earth Hour?
Oh may gott.. Banyak nanya ya, mending langsung lihat disini aja untuk more info-nya. Daripada gue harus bersusah-susah copy-paste dari web aslinya, yang tentunya menghabiskan banyak calorie...




Earth Hour bukan hanya sekedar gerakan atau kampanye, tapi juga sebuah organisasi dan komunitas yang bergerak di bidang hemat energy. Komunitas Earth Hour yang tersebar dibanyak daerah, tidak hanya di daerah jabodetabek saja. So, jika kalian yang 'ngakunya' cinta energy, yuk silahkan cari info lebih lanjutnya, mengenai komunitas Earth Hour yang ada didaerah kalian. 

You know lah, sumber energy kita yang semakin berkurang dan membutuhkan waktu beribu-ribu tahun, bahkan berjuta-juta tahun untuk me-restore-nya kembali. Memaksa kita umat manusia untuk melakukan gerakan hemat energy ataupun mencari alternative energy lain. 

Minyak bumi yang semakin menipis dikarenakan kebutuhan umat manusia yang semakin meningkat di bidang energy. Asal kalian tahu bahwa minyak bumi itu berasal dari makhluk hidup yang telah mati jutaan tahun lalu. Dengan proses kimia dan biologi yang terjadi selama proses pembusukan didalam tanah, dengan waktu yang sangat lama dan panjang, akhirnya terbentuklah minyak bumi, gas alam dan batubara yang dapat kita nikmati saat ini.

...Asik-asik, sok tahu aja sih gue, kurang lebih sih begitu...



Sekitar 4 tahun yang lalu, gue diajak oleh seorang temen, yang berinisial 'M' atau sering dipanggil 'Melly' (nama asli disamarkan). Singkat cerita, berangkatlah gue dan 3 orang temen gue lainnya yaitu, Rimas, Faizah, dan Maudy. Akhirnya tibalah kami di tempat perkumpulan anak-anak komunitas Earth Hour kala itu.

Pengalaman gue sih selama beberapa dekade mengikuti Earth Hour, yaa, kurang lebih waktu itu sebulanlah. Cukup banyak informasi dan pengalaman yang gue dapat dari sini. Terutama seberapa pentingnya sih menghemat energy itu.

Selain itu, disini juga gue banyak mendapat teman baru, walaupun sebenarnya gue gak kenal mereka semua sih. But, it's okay. Dari komunitas ini kita dapat belajar, gimana sih untuk berkampanye yang baik dan benar, melakukan penyuluhan-penyuluhan dan pastinya membuat kita berani untuk tampil didepan public.


Waktu itu kegiatan gue banyak banget, padahal baru sekedar menjadi volunteer. Seperti, melakukan penyuluhan kepada setiap orang yang lewat, tentunya orang yang belum kita kenal sebelumnya. Bahkan banyak juga orang yang curiga ketika melihat gue pertama kali, mungkin mereka berfikir "ini orang mau nyopet ya??", ya kurang lebih emang tampang gue kayak tukang copet sih. 

Waktu itu sih gue melakukan aksi kampanye-nya seperti ini..

Gue  : "Permisi kak, Boleh saya mengganggu sebentar"
Alien : "Oh ya, ada apa mas?"
Gue  : "Saya ingin bertanya, apakah saya ganteng?"
Alien : "F*ck You!!"

Gak..gak.. kayak gitu yang bener seperti ini..

Gue : "Permisi kak (padahal udah ubanan dan jenggotan), saya Rhavy dari Earth Hour Indonesia.. Bla.. Bla.. (menjelaskan maksud kedatangan)"
Public: "Oh gitu.. emang kapan tuh dilaksanakan?"
Gue : "Tanggal sekian pak, maksud saya kak, dari jam sekian hingga sekian"
Publc: "Baiklah kalau begitu mas, nanti saya akan matikan beberapa lampu dirumah saya pada tanggal segitu"
Gue : "Terima kasih pak sudah mau berpartisipasi, boleh saya meminta nomer HP dan email bapak?"
Public: "Buat apa mas, saya curiga nih jangan-jangan situ papa-papa yang minta pulsa lagi?"
Gue : "Bukan pak bukann, eh maksud saya kak, ini buat data orang-orang yang bersedia berkontribusi pada kegiatan kali ini"
Public: "Ohh.. kirain, okelah kalau begitu"

Hmmm... Segitu kriminalnya muka gue kali ya? 

Tapi banyak juga sih yang tertarik, bahkan sukarela untuk mengikuti tahapan tiap tahapan untuk mendukung hemat energy. Ya, begitulah beberapa kegiatan yang gue lakukan ketika gue menjadi volunteer di Komunitas Earth Hour yang ada di Jakarta.

Keren-nya lagi adalah setelah mengikut kegitan ini, akhirnya gue bisa foto bareng Michael Jackson. Kehadiran Michael Jackson kali ini adalah untuk menarik orang-orang yang ada disekitar sana, agar lebih berminat dan penasaran dengan kegiatan kita kala itu. 

Nih fotonyaaa, walaupun sekilas emang gak mirip Michael Jackson sih...



Begitulah, keasyikan dan keseruan ketika gue menjadi Earth Hour Indonesia..

See you on the next article dude....


Taman Makam Quilling di Cariu Jonggol

Taman makan, kuburan, cemetery, rumah di masa yang akan datang atau apalah itu sebutannya, yang penting KUBURAN. Intinya tempat yang menjadi tujuan akhir setiap umat manusia atau tempat yang akan di singgahi oleh semua manusia di muka bumi ini.

Kenapa kali ini gue mem-posting mengenai kuburan? Apa bagusnya sih kuburan? 


Mendengar kuburan memanglah sedikit membuat bulu si entong merinding, ehh maksud gue bulu kuduk. Akan tetapi, berbeda dengan kuburan yang akan gue posting kali ini. Bahkan, rasa takut ketika singgah di tempat yang satu ini tak akan ada sedikit pun. Menurut gue lebih menyeramkan wajah mantan.... Baper!


Semua ini berawal ketika gue memposting foto di bbm ataupun instagram gue. Banyak yang bertanya "Vy itu dimana?", "Kemaren sih gue dari korea bro" jawab gue. Hebatnya lagi mereka semua percaya, padahal itu kuburan. So.. kalian bisa menilai siapa yang bodoh gue apa temen-temen gue.. PIZZZZZ gaess !!

Taman Makam Quiling 




Seperti namanya, ini bukanlah kuburan, walapun intinya sama sih. Melainkan suatu taman makam, dimana taman makan yang biasayan identik dengan sesuatu hal yang horror, ditempat ini disulap menjadi pemakaman yang cukup indah. Bahkan dikatakan, dapat dijadikan tempat rekreasi, you knowlah Indonesia... Selama bisa gelar tiker and selfie-selfie, they'll call it with vacation...


Nah ini contoh orang Indonesia yang suka selfie-selfie tanpa melihat sikon dimana pun tempatnya... NORAK !!!



Lahan pemakaman Quiling yang terletak di Jonggol, Bogor diklaim sebagai satu-satunya tempat yang memiliki pemandangan seperti di daerah Quiling, China . Dikelilingi dengan hamparan pegunungan, lereng-lereng, dan aliran sungai, menambah nilai keindahan yang terletak di taman pemakaman ini. 


Diresmikan pada tahun 1995 silam dengan harga beli tanah saat itu sekitar Rp 2.000/meter dan untuk saat ini mungkin telah mencapai harga ratusan ribu atau bahkan jutaan rupiah. Dikarenakan tempat yang strategis diatas perbukitan dan lagi akses yang tidak terlalu susah dijangkau dari jalan akses utama. Menjadikannya taman pemakaman yang sangat strategis.



Untuk harga kaveling lahannya beragam, mulai dari jutaan hingga ratusan juta rupiah. Bahkan, yang gue denger dari akang gue sih harganya bisa sampai 1 Euuummmmbeeeerr. 

"Kang, kalau mau dikubur disini berapaan kang?" Tanya gue
"Setahu akang sih, ratusan juta. Tapi katanya ada juga yang seharga 1M, kenapa vy? Mau dikubur disini?" Jawab akang.
"Hmm.. Gimana yaa.. akang duluan aja yuk sekarang, rhavy entar2 deh" Rasanya pengen gue kubur idup2 tuh akang gue. 


Taman Quiling ini memiliki luas lahan sekitar 120 hectare, kurang lebih segitulah, sok tahu aja sih gue. Katanya, 20 hectare-nya telah terisi oleh makam. Akan tetapi, kebanyakan yang dikuburkan disini adalah warga keturunan Tionghoa yang berpegangan pada hitung-hitungan Hong Shui. Selain Tionghoa, ada beberapa makam dari kalangan penganut katolik maupun kristen. 

Sejauh ini gue belum lihat batu nisan umat muslim disini. So.. apakah kalian ingin mencobanya?


Jika kalian pergi kesini, jangan heran apalagi bingung, kenapa makam disini besar-besar?


"Kang kok makamnya gede-gede ya?" Tanya gue
"Budaya Tionghoa gitu vy, kalau mereka meninggal, harta benda yang paling berharga semasa hidup sang almarhum akan dikuburkan bersamanya, katanya sebagai bekal di dunia lain" Jawab akang gue
"Kalau benda berharganya mobil/motor, gimana?" tanya gue
"Ya, harus dikubur" Jawab akang gue
"Kalau benda berharganya mantan saya gimana kang?" tanya gue
"Kubur aja emaknya vy!!" jawab akang dengan nada sinis

Pastinya, good readers pernah mendengar tentang kebudayaan yang satu ini kan? Jadi jangan kaget kalau datang ke pemakanan ini. Jika melihat salah satu makam yang sangat besar. Kemungkinan didalamnya banyak benda beharga yang dikuburkan bersama sang almarhum. 



Begitulah mengenai taman makam Quiling yang ada dijonggol. Mungkin bagi kalian yang penasaran akan tempat ini, silahkan berkunjung ke makam ini.

Akses jalannnya: dari Cibubur junction, ambil ke arah Cileungsi, melewati fly over Cileungsi, lurus terus, Mekarsari lurus terus, perumahan Citra Indah lurus terus, ketemu pertigaan, dari situ tanya orang, gue agak lupa sih. Hehehe...

See ya on the next article....

Pantai Marbella di Anyer

Liburan kuliah yang tinggal menghitung hari, sudah gue persiapkan sebaik-baik mungkin untuk mengambil liburan ke Serang, Banten. Kenapa serang yang gue tuju? Karena ada seseorang yang mengaku-ngaku sebagai teman gue dan kebetulan dia tinggal di serang, akhirnya gue manfaatkan lah dia. Sebut saja nama mereka ini adalah 'Hisyam dan Geby'.

Liburan pun tiba dan akhirnya gue beserta rombongan berangkatlah ke Serang. Dari pada di kost-an menghabiskan masa liburan bersama tangan, sabun, tissue dan ke-JOMBLO-an gue ini. You know lah... Mending gue berangkat ke suatu tempat yang belum pernah gue datangi.

Singkat cerita, tibalah kami di Serang. Ketika itu Hisyam dan Geby bersedia menjemput untuk mengantar kami kerumah mereka. Dikarenakan posisi matahari yang sudah tak tampak, mau tak mau gue bersama rombongan harus beristirahat terlebih dahulu, untuk melakukan perjalanan esok hari.

Satu hal ketika gue menginjakkan kaki di Serang "Udaranya panas yaa.. Boleh buka baju gak ?".

Berkeliling kota Serang pada malam hari dan melihat hiruk-pikuk warga sekitar. Serang merupakan suatu kota atau lebih tepatnya ibukota dari Banten, oleh karena itu, suasana di kota ini sudah cukup modern dengan lampu-lampu yang menghiasi setiap sudut kota dan beton-beton yang sudah tampak pembangunannya.

Esok harinya, peralatan tempur untuk menuju pantai Anyer telah dipersiapkan. Berbekal perlatan yang tentunya biasa-biasa saja, ala anak-anak alay liburan, dengan modal nekat dan kantong yang pas-pasan berangkatlah gue beserta rombongan menuju pantai Anyer.

Anyer's Beach, we're comingg...




Tibalah gue di pantai yang katanya, terkenal dengan keindahannya, KATANYA. Pokoknya pantai Anyer itu sangatlah terkenal. Akan tetapi, ketika gue menapakkan kaki di salah satu pantai yang ada di Anyer.

"Shit this is Anyer?" dengan ciri khas wajah gue yang terheran-heran nan imut.
"Kita gak salah pantai geb?" 
"Pantai Ancol kali nih"
"Anyer tuh luas, ini namanya pantai Marbella, kalau yang bagus agak jauh dari sini" jawab si Geby
"Oooh gituuu..." dengan nada yang sok menyimak.



Memang sih sedikit berbeda dengan apa yang gue dengar selama ini mengenai Anyer, mungkin karena pantai di Anyer banya dan saat itu sangat tak memungkinkan melakukan perjalanan yang menyita waktu untuk melihat panta Anyer yang sangat terkenal. Apalah daya kita hanya bermain di pantai Marbella. Usut punya usut dulu pantai Marbella ini sangat biru, tapi karena ulah manusia jadi sudah tak terlalu biru. 

Tapi, it's okay lah. Karena sudah jauh-jauh ke sini hanya untuk berlibur, well, nikmati apa saja yang tersedia. Pantai Marbella ini memiliki, pasir abu-abu bercampur putih dengan garis pantai yang terbentang luas. Oleh karena itu, banyak warga sekitar menghabiskan waktunya untuk bemain disekitar pantai. 

Di pantai ini telah disediakan beberapa saung sebagai tempat untuk menaruh barang-barang dan istirahat. Jadi jika kalian berniat ke sini tak usah khawatir dengan barang-barang kalian. Bahkan, di beberapa sudut pantai disediakan rumah peristirahatan, bisa dibilang seperti resort gitu sih. Jangan bertanya apakah ada resort bintang 5 disini? Berarti lo GILA. 



Banyak para pedagang menjajahkan makanannya disini, well, enggak usah takut kalau kekurangan makanan karena banyak pemasok makanan disini mulai dari tukang otak-otak, bakso, sampai warung penjual gula juga ada disini. Seandanyainya ada warung penjual tante-tante imut, mungkin akan lebih lengkap lagi.

Ada pengalaman yang kurang mengasyikkan mengenai makanan, saat gue disini. Ketika gue membeli otak-otak dengan harga Rp 10.000 dapat 5 buah. Yang ada di pikiran gue ketika itu adalah "Ih murah... nyobaiin ah" maklum anak kost, walaupun liburan, harus hemat semaksimal mungkin.

"Bang.. bang.. ini ikan apa?"
"Sapu-sapu bukan?"celetuk gue.
"Ikan tenggiri de" jawab si tukang otak-otak.
"Yah kirain ikan sapu-sapu. Lebih enak pake sapu-sapu bang, kenyell-kenyel imut gimanaaaaa. gitu"
"lain kali deh di coba" kata abangnya.

SHIIIIT, rasanya pengen gue lempar tuh otak-otak ke muka abangnya kalau beneran dia pake sapu-sapu. Kali ini gue gak ragu untuk membeli otak-otak, karena lokasinya ini dekat pantai, jadi sedikit menjamin. Setiap gue beli otak-otak gue takut karena biasanya dibuat pakai ikan sapu-sapu yang imut nan menggemaskan dari kali Ciliwung.

Serentak kawan-kawan gue juga mencicipinya, ketika membuka bungkus daun pisang otak-otak. Helai demi helai, detik demi detik, menit demi menit, hari demi hari.. Lebay!

"Ini kita makan otak-otak apa lagi lomba buka bungkus otak-otak?!" celetuk kawan gue. Karena bungkusnya yang tebel  dan dengan isi otak-otak yang besarnya hanya se-ibu jari orang dewasa. Membuat gue kapok beli otak-otak disini.



Setelah beristirahat sejenak, lanjutlah kami untuk bersenang-senang di pantai ini. Tak, kehabisan akal siang harinya kami patungan dan membeli sebuah bola untuk dimainkan dibawah terik matahari yang cukup menyengat kala itu. Hitung-hitung berjemur di bawah matahari biar kulit hitam dan sexy.

Setelah lelah bermain bola, dengan tubuh yang semakin hitam dan bercucuran keringat, memberikan kesan sexy. Beramai-ramailah kita menyerbu air laut dan berenang-renang ria hingga sore hari, bermain di dalam air membuat kami lupa pukul berapa kala itu. 

Air laut yang ada di pantai Marbella tidaklah terlalu biru, mungkin dikarenakan pasir pantai dan juga beberapa kelakuan buruk manusia. Akan tetapi ombak yang ada disini cukuplah tinggi, jadi cocok untuk kalian yang suka surfing. Setelah lelah berenang dan matahari mulai tenggelam, akhirnya kami menyudahi acara berenang-renang ria dan bersiap untuk pulang. 




Setelah semua beganti baju, sebelum kembali kerumah kita melaksanakan acara bakar-bakar. Ikan yang telah kami beli, maksudnyaaa Ali beli, dengan uang patungan. ehh.. Maksudnya dengan uang Ali. 

Karena telah larut malam, dengan penerangan yang seadanya, bakar-bakaran kala itu cukup menarik dengan disorot lampu mobil hisyam dan geby, seperti di film-film Hollywood. Sayangnya bakar-bakarannya tak seperti di film-film Hollywood. Niatnya membuat 'cumi bakar manis-asin', alhasil menjadi cumi bakar tanpa rasa dan tak steril.

Bagaimana tidak hanya bermodal bumbu margarin dan kecap saja, celupakan cumi tadi kedalam kecap dan olesi dengan margarin. Balik secara berkala cumi ketika diatas panggangan dengan jepitan, "shit gue lupa bawa jepitan!!!" kata si Ali, okehhhh degan tangan. 

Kemudian setelah matang letakkan diatas piring dan sajikan dengan saus pedas. "shit!! gue juga lupa bawa piring" kata si Ali. OKEEEHHH pakai kertas nasi. Dengan tangan yang masih berlumur pasir, cumi bakar kala itu semakin gurih, ketika gigitan pertamanya. Karena perut  yang lapar, tanpa pikir panjang lagi gue lahap abis itu 'Cumi bakar tanpa rasa yang tak steril' kala itu. 



Setelah itu kami bersiap untuk kembali kerumah dan beristirahat. Ya, begitulah kegiatan gue selama di Serang dan Pantai Anyerr. 

Untuk akses ke Serang : Bisa menggunakkan bus dari kampung rambutan dan turun di patung atau bisa menggunakan kereta. Tapi agak jauh jika menggunakan kereta. 


See yaa next time guys. Makasih.

"It doesn't matter where you are. If you do something cool. It will be some cool things"