Showing posts with label Jawa Tengah. Show all posts

Air Terjun Grojogan Sewu Tawangmangun

Bogor pindah ke kota Soloooo. Uyeee.. Lala.. Yeyeye.. Lebay!

Saking girang tujuh keliling gue nemuin tempat yang se-adem bogor.

Setelah beberapa dekade gue menginjakkan kaki di Solo berpanas-panas ria dibawah teriknya matahari yang membuat kulit lembut gue menjadi sedikit burikan dan wajah putih bersinar gue menjadi sedikit kusam. Akhirnya gue menemukan tempat yang bisa membuat hati adem ayem.

Tawangmangu.

Merupakan kecamatan yang berada di kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sebenernya sih letaknya gak di pusat kota Solo, tapi bertetanggaan lah seperti Jakarta-Bogor. 

Dapat ditempuh satu jam dengan motor sewaan dari kota Solo. Walaupun jaraknya sekitar 40KM-an karena disini tidak mengenal kemacetan. So wush wush bablas anginee. Sekali gas langsung nyampe. 

Awalnya gue mau mengajak si efjeh dan adiknya. Untuk meramaikan suasana aja biar gak beduan sama sule. Alhasil, si efjeh dan adiknya mesti menuntut ilmu di kampus tercinteh. Pada akhirnya gue berdua lagi sama sule, emang udah rejekinya sama sule. Itung-itung biar hubungan kita makin dekat dan langgeng.

...Jijik sih.

Hanya bermodalkan motor sewaan, modal nekat, gps yang error, dan terakhir cintahh. Kami berdua memberanikan diri untuk menyusuri sudut demi sudut jalan untuk tiba di Air terjun Tawangmangu. 

Jembatan pertama setelah keluar kota Solo
Setelah melewati beberapa lampu merah, fly over, kesasar dan lawan arah, ciri khas anak Djakarta bangetss, akhirnya kami berhasil keluar dari belenggu kota solo. Disambut dengan jembatan pertama tanda bahwa kami telah keluar kota solo. Menjadi check point pertama kami. 

Setelah itu kami hanya mengikuti jalan dan plang tanda jalan ke arah tawangmangu. Sembari menikmati kemesraan kami berdua di atas motor. 

Beruntung karena track jalan yang sudah mulus semulus paha gue, so perjalanan kali ini tidak terlalu susah. Yang susah nanya jalan pake bahasa jawa lumayan bikin keringet dingin. 


Jalannya mulus semulus paha mantan gue.

Menikmati indanya pemandangan kanan dan kiri yang dihiasi oleh persawahan dan pegunungan membuat kami larut untuk berhenti sejenak melupakan kemesraan kami hanya untuk mengambil foto selfie. 

Biar dikata anak gahol gue dan sule juga harus narsis.. 


Dua orang mesum dari priuk.
Dengan tampang mesum kami berselfie ria di pinggir jalan, menghiraukan berapa banyak orang yang lewat ngeliat kami dengan wajah sinis menghina seakan berkata "Wong deso poto2 neng pinggir jalan". 

Namanya manusia pasti belum "srek" kalau belum selfie selama perjalanan..

Setelah menahan malu yang sudah tak terbendung lagi, akhirnya kami bergegas untuk berangkat. Sebelum ditimpuk batu oleh pengendara motor yang lewat. 

Setelah lama menyusuri jalan yang tak kunjung usai, akhirnya semangat kami kembali terbakar setelah melihat gapura selamat datang. Entah selamat datang dimana? yang penting selamat datang, pertanda kita sudah hampir sampai. 


Selamat datangg....

Kembali menyusuri jalan tanpa tahu arah dan tunjuan hanya percaya oleh kekuatan cinta yang akan mempertemukan kitaahh.. 

"Le ini bogor kali" Sentak terkejut melihat suasana jalan setelah gapura selama datang. Jalan dan beberapa pertokoan pinggir jalan yang mengingatkan gue akan suasana bogor terutama puncak yang ada di jawa barat. 

Ditambah lagi dengan kabut dan suhu yang dingin, semakin membuat gue teringat oleh kota bogor yang terkenal oleh talasnya tersebut. 



Setelah bernostalgia dengan lingkungan sekitar, kami tetap melanjutkan perjalanan. Semakin keatas dan keatas. Perjalanan semakin mendaki, begitu pula dengan suhu yang semakin dingin. Serasa gue ingin memeluk sule yang penuh dengan gumpalan lemak yang cukup hangat untuk dipeluk. 

Pada akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Setelah sekian lama mengendarai motor dan mendaki. Letak air terjun ini berada disebelah kiri jalan. Cukup mudah untuk ditemukan. 

Bergegas kami memarkir motor di pintu masuk, penderitaan kami belum selesai. 

Jarak pintu masuk dan tempat tiket masuk sekitar 500M. Rasanya pengen gue makan idup-idup itu mas parkir depan, ternyata motor boleh di bawa masuk hingga depan gerbang tiket masuk. 

Alhasil membakar kalori dengan berjalan kaki...

Penderitaan kembali harus kami lewati perjalanan dari gerbang tiket masuk dan air terjun adalah sekitar 500M dan itu "HARUS!" jalan kaki dan "HARUS!" naik turun tangga. Pada akhirnya gue "HARUS!" nungguin sule istirahat untuk ngambil nafas. 


Dari atas hingga bawah harus melewati anak tangga...
Jembata asmara untuk foto...
Sule yang udah pasrah dengan pahitnya perjalanan...
Ketika kami tiba di bawah kami disambut dengan derasnya dentuman air yang jatuh dari air terjun Tawangmangu yang cukup tinggi. Bahkan embun-embun air begitu terasa dari kejauhan. Menandakan betapa tingginya air terjun ini. 

Sebelum tiba di air terjun kami harus berhadapan dengan monyet-monyet yang super duper luar biasa berotot. 


Emang enak dikerjain kang parkir tong!!..

halooo..
Karena gue ga berani foto monyet yang berotot takut diajak ribut, alhasil gue foto monyet yang bisa diajak narsis. 

Info aja monyet disini kekar-kekar udah kayak Aderai. Mungkin monyet disini udah sering menang kontes binaragawan. Kalau diajak ribut ama monyetnya gue mending ngabur ototnya ende-ende serem gan. 

Gak mau nyari masalah sama monyet, mending gue ngibrit ke air terjun. 


Narsis dulu lah dari mamang sule...
Mamang sule udah kayak model celana dalem...

Orang ganteng.. Dari belakang aja keceh badai tornado.

Air terjun dan jembatan dari kejauhan. 
Tampak dekat dari air terjun.. 
Begitu tinggi menantang air terjun Tawangmangu, dihiasi dengan batu alam yang telah terselimut oleh lumut-lumut hijau menambah suasana alam yang begitu indah untuk dinikmati oleh pasangan muda mudi yang berpacaran. 

Seakan berada di dunia lain, membuat gue merasakan keindahan alam ciptaan Allah SWT yang sangat indah untuk dinikmati dan susah untuk di jelaskan oleh kata-kata. 

Bebatuan alam dan air terjun yang seakan selaras terukir oleh alam. 

Dinding-dinding tebing yang kokoh seakan menjadi pondasi terkuat untuk menopang air terjun Tawangmangu ini. 

Deraian angin dan hempasan embun-embun air yang menyentuh wajah. Membuat gue enggan untuk meninggalkan tempat tersebut.

Sekian...


Begitulah puisi indah yang dapat gue ciptakan dan semuanya berubah semenjak hujan menyerang. Gue mesti ngibrit nyari mushollah untuk sholat dan berteduh. 

Pengalaman yang tak terlupakan untuk dilupakan..

Seandainya Efjeh dan Aisyah ikut. Akan gue tunjukkan seberapa indahnya ciptaan Tuhan yang satu ini, akan tetapi ada ciptaan yang lebih indah dari air terjun ini, makhluk yang sunggu luar biasa indahnya yaitu kalian berdua, teruntuk Efjeh dan Aisyah.. Saikkkkk!!!

Fix.. Lebay.. Jijik.. So puitis... BHAYYYYY!!!!


Puisi tersebut menjadi pehujung terakhir dari article kali ini. Karena selebihnya perjalanan pulang kami tak ada cerita indah yang ada cerita suram. Dikerjaain hujanlah, kecipratan air pinggir jalan lah dan pada akhirnya kami basah kuyubb.

See you sampai bertemu di article berikutnya. Bhay !!



Oleh-oleh selama perjalanan menuju Tawangmangu, kami melihat plan yang cukup "ngenyek".

Alamat wisata :

Air terjun grojogan sewu, Tawangmangu, Karang Anyar, Jawa Tengah. 
Satu jam lebih dari solo menggunakan motor : +- 40KM


Maps : Here




Merayakan Imlek di Festival Lampion Solo

Gapura tanda perayaan Imlek

Hari pertama gue menjajahkan kaki di Solo.


Selama perjalanan gue teringat akan salah satu quote yang sangat langka dan sangat biasa, bahkan tak ada apa-apanya dan berasal dari buku yang juga biasa saja yaitu 'Koar-Koar Backpacker Gembel'.



Jauh-jauh untuk liburan jangan habiskan waktu mu untuk tidur, kalau mau tidur ya dirumah. 
Biasa kaannn? Emang!!

Lantas di hari pertama gue hanya sempat tidur sekitar 3-4 jam-an. Pagi hari gue habiskan untuk berbenah dan sekedar membersihkan raga gue dari roh-roh jahat selama terombang-ambing di kereta.


"Jeh, efjeeh, jeeh woyyy, cari sarapan yokss" ajak gue via line.


"Sarapan dimana?" jawab efjeh via line juga.


"Di Depok aja yuk je gimana?" Rasanya pengen gue timpuk ini anak. Gue baru 7 jam ada di solo ditanya 'sarapan dimana?'


"Wkwkwkw... (ciri khas dia apa aja diketawain) yaudah ke kost gue aja dulu" kata efjeh via line


"OTWehhh jehh" balas gue via hati line. (padahal gue masih asik ngulet diatas badannya Sule)


Akhirnya berangkatlah gue mencari sarapan. Berjalan kesana kemari tanpa tujuan dan tak tahu arah jalan pulang. Bertemulah gue dengan tempat makan yang biasa efjeh dan adiknya menikmati segelas penuh sop buah.


Namanya orang abis perjalanan jauh, apapun gue sikat, bahkan gue gak tahu apa saja lauk-pauk yang barusan gue makan, ditambah lagi dengan segelas penuh sop buah. 


Jeng..jeng..jeng.. 


Saatnya bayar, ini adalah moment-moment menakutkan bagi kaum pria-pria gentleman kayak gue, tentunya lebih menakutkan dari pada melihat mantan di Mall pegangan tangan sama cowok barunya.


"Bu semua berapa ya?" tanya gue. Berharap ada gempa lewat, jadi gue bisa kabur tanpa bayar.


"Pakai apa saja mas?" tanya si ibu.


Okay fix, gue lupa pakai lauk apa saja. Untung ada Aisyah yang inget gue pakai lauk apa saja. Lauk saja inget! Apalagi cowoknya. Aseekkk... Bodo amat lah!!


"Jadi totalnya 14 ribu mas" jawab si ibu. 


"Hah? Berapa bu? 14 ribuu?" dengan nada yang terkaget dan wajah yang tercengang-cengan kayak di drama-drama korea SBS.


Itulah hebatnya Solo. Jangan heran kalau makanan di Solo murah-murah. Selama gue numpang disini. Makanan semahal-mahalnya yang gue makan kurang dari 20 ribu. Even, itu di cafe atau tempat makan pinggir jalan ya. 


Setelah makan gue bergegas melanjutkan perjalanan ke Klaten, yaitu Umbul Ponggok. Tapi Tuhan berkata lain, hari itu turun hujan. Mau gak mau kegiatan siang itu gue batalkan. Dengan hati yang kecewa gue kembali ke kost-an efjeh. Tentunya dengan kondisi hujan-hujan-an dan basah kuyup.


Untung ada yang perhatian ibu-ibu tukang masak kost efjeh "Waduh basah-basah-an, mau makan dan minum apa mas?"...


... Walaupun ujung-ujungnya bayar sih.



***

Singkat cerita, karena plan awal gagal. Malamnya gue diajak si dua kakak-beradik ini untuk melihat festival lampion di tengah kota Solo. Lebih tepatnya di pasar Gede, Hardjonagoro. 

Pasar Gede, Hardjonagoro
Untuk menikmati indahnya malam berhiaskan lampu lampion ala negeri tirai bambu, kita tidak dipungut biaya sepeser pun, hanya dengan membayar tiket parkir. Kita sudah bisa menikmati keindahan malam di balik lampion merah semalaman suntuk. 
Jejeran lampion menghiasi malam kala itu
Festival ini diadakan oleh pemerintah kota Solo sebagai salah satu daya tarik wisata kota Solo. Selain itu, perayaan tahun baru imlek dilaksanakan sebagai upaya toleransi antara pihak pribumi dan warga asli keturunan Tiong hoa di Solo.

Itulah kreatifnya kota Solo, demi menarik para wisatawan. Kota ini sering mengadakan agenda-agenda khusus yang ditujukan untuk menaikan arus wisatawan di kota Solo. 


Jujur saja kota solo termasuk kota kecil, mungkin sehari kita bisa mengitari keseluruhan kota Solo. Oleh karena itu pemerintahan solo, melakukan beberapa kegiatan untuk menaikan daya tarik kota yang terkenal dengan 'orang jawa halus-nya' ini.




Crowded itulah kata yang pantas menggambarkan suasana malam itu. Narsis itulah kata yang pantas menggambarkan gue malam itu. Kebetulan sih Aisyah membawa kamera DSLR miliknya. Well, it's time to take pictures..


Nih hasil foto Aisyah... Keceh binggo.



Orang imut yang pernah ada di Dunia
Dan ini hasil foto gue... 


Fix gagal !!
... Sunggu luar biasa Blurrrr-nya. Okehh, bhay!!

Kebetulan banyak anak-anak alay lagi pada sibuk foto-foto di pinggir jalan. Gue sebagai terong-terongan gak mau kalah. Foto seheboh mungkin di pinggir jalan. 



This is Us. Taken by Aisyah
Tiba-tiba "bruakk" sih efjeh nabrak orang pas lagi selfie. Gue gak tahu apa yang ada di kepala efjeh saat itu. Bahkan mbak-mbak lagi asik selfie di pinggir jalan juga di tabrak. 

"Ngil..ngil fotoin gue yuk sama pocong" ajak sule.


"Mane congg, mana ada pocong ditempat kayak gini" jawab gue.


"Nohh.." sembari menunjuk dan merengek guling-guling di atas jalan minta foto bareng pocong.


Okelah gue sanggupin si bayi dugong ini untuk foto bareng pocong. Mumpung si pocong lagi gak sibuk gangguin orang. So, kapan lagi..



Kedekatan dan kemesraan antara pocong dan Sule
Begitulah kedekatan antara sule dan om-om pocong malam itu. Entah apa yang ada di pikiran sule kala itu. Mungkin dampak dari terlalu lama men-jomblo, pocong perawan di pinggir jalan juga disikat.

Selain pocong, ada juga mbak kunti dan om vampire di tempat ini. Itulah salah satu daya tarik dari festival lampion di Solo. Sebenarnya sih, mereka adalah orang-orang creative yang berdandan ala-ala hantu dalam negeri. Untuk foto bareng mereka tidak usah merogok kocek dalam-dalam.

Cukup mengisi kotak amal jariah yang mereka bawa. Sebagai apresiasi kita terhadap usaha dan jasa-jasa mereka. Ingat... Seiklasnya.


Setelah nafsu birahi sule untuk foto bareng pocong telah terpuaskan. Kami lantas bergerak menyusuri jalan-jalan kota Solo dimalam hari dengan berjalan kaki. Setelah beberapa ratus centimeter kami bergerak. 


Yang anak gahol pasti tau maksud foto ini.
Kami disuguhkan dengan patung-patung yang berdiri tegak menantang di sepanjang jalan menuju pintu masuk Kesultanan Surakarta, lebih tepatnya di depan gedung bank Indonesia yang lama. Dengan beberapa hiasan lampu, patung ini tak lepas dari foto narsis kita para alayers dari Depok.


Jejeran patung lampu di depan Bank Indonesia Lama
Foto bareng sodaranya Sulee. Uyeeeyy !!
Ini yang namanya Aisyah dan yang belakang namanya Rasyah..
Setelah puas berfoto-foto ria dengan patung-patung lampu yang menggoda. Akhirnya, kami mengakhir perjalanan kami malam itu dengan beberapa foto yang cukup membuat gue kangen dan meneteskan air mata setiap kali melihatnya...

...Lebay!!

Perjalanan kami malam itu kami akhir dengan wisata kuliner dengan menyantap makanan kaki lima ala-ala malam kota Solo dan tidak lupa membeli martabak 'Makobar' untuk kami santap di kost-an.

Martabak Makobar itu martabak dengan beberapa toping. Jadi dalam satu martabak tersebut terdapat sekitar 8-12 toping berbeda. Tentunya dengan toping yang sesuai selera kita.

Untuk gambar googling aja ya. Waktu itu saking khilaf-nya, lupa untuk mengabadikan si Makobar yang sudah terlanjur masuk kedalam perut.

Bergitulah perjalanan kami pada hari pertama tiba di Kota Solo. Salam untuk Melly Setiawati yang lagi sibuk jadi bu Dokter dan Syafrina Agny Islami yang lagi sibuk kuliah sembari cari jodoh. Kasian deh gak bisa ikut, jangan kuliah terus mangkanya...hihi

Stay tuned at my blog for the next article guys. Love you all..

Tambahan Foto :


Abaikan orangnya fokus pada kuilanya.
This is us
This is us part 2
Hiruk pikuk malam hari kota Solo
Hello Everyone !!
Suasana malam kota Surakarta
Ini gue sama Fatimah kakak dari Aisyah alias temen sekelas gue waktu SMA
Tiga Sekawan
No Caption !!
 Dan terakhir...


Si ganteng dari Jonggol..

Rincian Harga :

Sop Buah 'Seabrek'               : Ro 7.000,-
Parkir Sepeda Motor              : RP 2.000,-
Bayar Pocong                        : SEIKLASNYA
Martabak Makobar 9 Toping    : Rp 50.000,-  (Semakin banyak toping semakin mahal)

Lokasi Festival : 

Pastinya di kota Solo. Lebih tepatnya pasar Gede, Hardjonagoro dan sepanjang jalan menuju pintu masuk Kesultanan Surakarta. Dekat Bank Indonesia Lama.


Serba-serbi 'Pertama' di Solo

"Everybody loves the things you do... from the way you talk... to the way you move"


Stasiun Pasar Senin
Iringan lagu Adele 'when we were young' menjadi pertanda awal perjalanan gue menjadi seorang backpacker. Ditemani dengan rintik-rintik hujan yang menghiasi kaca luar kereta, menjadikan suasana malam itu menjadi sangat melankolis.

Kala itu ditemani dengan seorang teman yang sudah tidak asing lagi dengan wajah yang sangat asing tentunya, tidak lain dan tidak bukan adalah Sulaiman Akbar alias Sule.



Simbolik awal perjalanan (tangga st Senin)
Perjalan ini merupakan awal dari segala perjalan gue. Why?

Because...

It's my first time gue melakukan perjalanan jauh sendiri keluar pulau jawa barat. Tanpa ditemani sanak keluarga atau bahkan mantan pacar.. Okeh lupakan!


Pertama kalinya juga gue menggunakan kereta kelas ekonomi. You know lah orang elit kayak gue biasa menggunakan kereta eksekutif. Itu juga 3 tahun sekali.


Ruter perjalanan Kereta Brantas
Google Maps.

Menggunakan kereta super cepat dan super elit shinkansen alias 'kereta ekonomi brantas' yang akan menjadi transportasi pengiring kami menuju solo. 

Satu hal yang selalu gue ingat selama perjalanan menuju Solo, iringan lagu Adele yang merdu seketika berubah menjadi celotehan hangat dari si ibu-ibu rambo yang duduk tepat di depan-nya Sule selama perjalanan. 


Sepanjang perjalanan mau tak mau, sudi tak sudi gue harus meladeni si ibu-ibu rambo ini mengobrol. 

Mulai dari mempromosikan barang dagangannya yang dibawanya ke kampung.

"De.. Mau beli gak? Ini lampu LED lebih bagus dari lampu neon, watt-nya kecil hasilnya maksimal, kayak punya ade kecil tapi kerjanya maksimal". (Saat itu juga, gue langsung menutupi si Entong dengan kedua tangan gue dari tatapan nakal si tante-tante rambo ini).

"Tahan banting, awet dan anti air" lanjut si ibu.

"Oh yaaa... Anti mantan gak bu?" tanya gue.

"SEKAREP'E!" jawab si ibu kesal.

Oh come on. Sudah hampir dua tahun gue kuliah di Gunadarma University mengambil jurusan Electrical Engineering. Ya, kali lampu LED saja gak tahu. SOMBONG !!

Hingga, iya menceritakan bahwa anaknya anggota brimob, sembari menujukkan foto-foto narsis dengan si anak, ketika bomb di sarinah terjadi. Bahkan, dia menunjukkan kedua foto putrinya yang telah menikah.

Gue gak tahu apa gue lagi mabok atau ke-sirep, tapi gue akuin kedua putrinya cantik-cantik. Sempat terlintas dipikiran gue untuk menjadikan si ibu-ibu rambo ini jadi calon mertua gue.

"Bu anaknya cantik-cantik ya, umur berapa? sekolah dimana?" Tanya gue penasaran.

"Iya dong cantik, orang ibunya saja ayu" jawab si ibu. Rasanya seketika ingin gue timpuk si ibu pakai lampu LED dagangannya...

(gue lupa umur berapa yang pasti diatas 20) "Udah gak sekolah de, Udah pada nikah, dua-duanya nikah sama polisi. Ini putri saya yang kedua sedang hamil tua, tujuh bulanan, mangkanya saya pulang" lanjut si ibu

"Oh gitu yaa buuuu.." saat itu juga gue mengambil ancang-ancang untuk tidur. Okay fine ! Bahkan di kereta hati gue harus hancur berkeping-keping. 

Ketika gue lihat ke samping, si sule lagi asik-asiknya tidur di pojokan dengan wajah menyindir "Mapos lo vy, temenin tuh ibu-ibu ngobrol sampe solo"...

Sialan lo le!


Sepanjang jalan gue habiskan dengan mengobrol dengan si ibu-ibu rambo. Entah kenapa gue semakin menikmati perbincangan kami. Mungkin ini yang dinamakan cinta pada obrolan pertama. Yasudahlah..

Jam menunjukkan pukul 1.52 pagi dan dari kejuhan terdengar "Sebentar lagi kita akan tiba di stasiun Solo Jebres, bagi penumpung yang akan turun harap mempersiapkan barang-barangnya dan hati-hati melangkah, sekian dan terima kasih" Suara masinis dari speaker...

...Suara tersebut menjadi pertanda akan perpisahan kami dengan si ibu-ibu rambo. Sebagai ucapan perpisahan sembari gue mencium tangan-nya gue mengucapkan salam cinta perpisahan, semoga dapat bertemu kembali dengan si ibu-ibu gokil yang satu ini.


Dari stasiun jebres gue sepakat untuk menggunakan ojek, selain harganya yang cingcai. Tentunya bisa lebih cepat tiba di tujuan. Sebelum menginap di kost-kost-an harian yang kami pesan. Gue dan mamang cule harus mampir dulu ke kost-an fatimah alias FJ. Untuk mengambil kunci kost-an.

Penderitaan gue belum selesai sampai disitu. Ketika gue menuju kamar kost yang kami tuju. Menyusuri dinginnya malam di gank-gank kecil solo, untuk tiba di kamar kost hanya untuk mengistirahatkan badan.

Seketika berubah...

"Jeh kok kunci gerbangnya bukan gembok?" tanya gue

"masa sih, coba liat" jawab fj "oh iya ya, kemarin ibunya gak bilang sih, cuman ngasih kunci gitu aja".

Kunci yang seharusnya berupa gembok berubah menjadi kunci helm motor dengan angka-angka imut nan menyebalkan untuk di pecahkan. 

"Yaudah, lo pada tidur di masjid aja, nanti jam 6 pagi kita kerumah ibunya minta nomor kuncinya" usul efjeh.

Okay. Lenyap sudah angan-angan tidur di kasur empuk sembari meluruskan kaki setelah semalaman terombang-ambing di dalam kereta. Berjalanlah kami menuju masjid...

...Dengan alas keramik yang dingin gue berangan-angan sedang diatas kasur yang empuk dan udara malam yang menusuk gue angankan sebagai ac kamar yang dingin. Tidurlah kami hingga adzan subuh menjadi alarm untuk menunaikan panggilan-NYA.

"De.. de.. bangun, sudah adzan subuh, mari kita sholat, nanti lanjutkan tidur didalam saja, diluar dingin" Ajak si bapak-bapak masjid. Akhirnya ada juga yang perhatian sama gue, walaupun itu bapak-bapak. Tapi it's okay no women no cry...

Sholat lah gue dan mamang sule. Setelah itu kami melanjutkan tidur didalam dengan karpet masjid sebagai alas tidur kami. 

Gue merasakan indah dan nyenyaknya tidur di dalam rumah Allah, walaupun beralaskan seadanya. Beruntung ada masjid yang mau menampung kami.

Pagi-paginya gue terbangun oleh line chat dari efjeh "good morning rhavy, gimana tidurnya nyenyak? Yuk kerumah ibu kost kita minta kunci" Okeh itu mimpi!

Ini yang asli..

Seketika berubah menjadi "Fi dimana woy? bangun woyyy udah pagi, jadi kerumah ibunya gakkk?" line attack dari efjeh.

"jadi jeehhh" balas gue. 

Setelah dari rumah ibunya, alhasil ibunya juga gak tahu nomer kunci gerbangnya. Akhirnya gue menuju kost kembali, berharap sudah ada yang bangun dan meminta dibukakan gerbang.

"Alhamdulillah" dalam hati. Doa gue dikabulkan, ada mas-mas yang sudi untuk membukakan gerbang untuk kita. Love you so much lah sama mas-masnya.

Hal pertama ketika gue melihat kamar kost-annya. It's really really 'biasa' jauh dibawah Standar Nasional Indonesia. Bahkan si sule menggerutu macam-macam.

Mulai dari kamar mandi luar dengan segerombolan kecoa dan cacing. Rembes ketika hujan dan seketika kamar jadi arena kolam renang. Kunci pintu dan gagang pintu yang hilang entah kemana. 


Keadaan 1
Keadaan 2
Harga sesuai dengan kualitas dong, nikmatin saja, namanya juga anak backpacker. Harus survive !! Selama bisa tidur dengan nyaman, it's okay lahh, cowok harus bisa survive dikondisi apapun. Saik..

Solo, we're ready for exploring you...Sampai sini dulu ya. Stay tuned on my blog. Karena gue akan menulis beberapa tempat yang telah kami berdua singgahi di solo. Tentunya dengan tour guide yang keceh-keceh dan imut-imut tidak lain tidak bukan...


Aisyah (adik dari efjeh), kanan efjeh (kakak dari aisyah) dan tengah orang paling imut di dunia
Bhayy...

Rincian harga :


Tiket Kereta Ekonomi Brantas : RP 90.000,-
Nasi goreng kereta                 : Rp 20.000,- (saran bawa makanan sendiri)
Pop Mie                                 : Rp 15.000,- (saran mikir-mikir kalau mau beli)
Ojek motor                            : Rp 15.000,-
Nyewa Mobil                          : RP 50.000,-
Taxi                                      : Rp 25.000,- (jarak terdekat, jauh berlaku argo)
Sewa Kamar Kost                  : Rp 300.000,- (4 hari 3 malam)

Jelajah Dieng Part I


Dieng..

Jujur aja waktu itu gue gak tau Dieng itu apa, yang gue tau Dieng adalah suatu tempat yang ada di jawah tengah.

Gue hanya seorang bocah smp ingusan pada saat itu dan dipaksa ikut oleh ortu gue untuk pergi kesuatu tempat antah berantah yang belum pernah gue denger sebelumnya. Ya, intinya gue dipaksa ikut ke tempat ayah gue bongkar pabrik jamur di dataran tinggi Dieng. 

Hmm.. dari pada gue dirumah menghabiskan liburan hanya bergelut dengan kumpulan kaset DVD ultraman yang sudah gue puter ribuan kali, bahkan gue tau ultramannya bakal ngomong apa. Akhirnya gue ikut.

Berangkatlah gue...
***

Usut punya usut, Dieng itu sudah terkenal dengan pemandangan hamparan pegunungan - pegunungan dan cuaca yang lumayan sangat dingin. Bahkan sepanjang mata memandang hanya ada puncak-puncak pegunungan yang di selimuti oleh pepohonan dan udara disini, asri, bersih, walaupun sedikit dingin.. sedikit.. Apalagi ketika kabut turun, rasanya ingin memeluk pacar yang jauh disana...

Jangan heran kalau good readers berlibur ke Dieng dan disepanjang jalan terdapat hamparan ladang kentang ataupun kol, bahkan banyak domba disini. Itulah ciri khas dari Dieng, karena tempatnya yang sangat dingin, sehingga banyak dijadikan lahan untuk tumbuhan maupun hewan yang hidup di daerah dingin.

Oh ya satu lagi, Dieng juga memiliki segudang mitos dan cerita-cerita misteri yang sudah sangat terkenal di telinga para travelers dan hikers. Dan semua itu akan kita bahas pada artikel gue dibawa ini...

***

Telaga merdada dan juga pabrik jamur yang dibongkar


...Ketika gue tiba disana, dua kata yang ada dipikiran gue 'Cold' and 'Awesome'. Kata 'antah berantah' tadi perlahan hilang dan berganti dengan kekaguman yang luar biasa.

Sepatah kalimat menghilangkan kekaguman gue sesaat "kita akan melewati jembatan darurat dari kayu" celetuk ayah gue.

Beberapa saat yang lalu terjadi longsor dan mengakibatkan rusaknya jembatan penghubung antara Wonosobo dan Dieng. Untuk sampai ke Dieng kita mesti melewati jembatan tersebut, begitu juga sebaliknya jika kita ingin ke Wonosobo.

"krek..krek..krek" tiap kali jembatan itu dilewati satu persatu oleh kendaraan secara perlahan. Terlihat antrian ketika melewati jembatan darurat ini. Takut dan menegangkan mungkin itu yang sedang gue pikirkan. Bagaimana tidak, sebelah kanan merupakan jurang dan sebelah kiri merupakan tebing dari bukit yang sedang kita lewati. Ditambah dengan kabut yang turun, menjadi pelengkap perjalanan kali ini. Pandangan kami yang terbatas, sekitar 50M memaksa kami menyalakan lampu jauh, sesekali melakukan 'deem' untuk memberi isyarat mobil diarah yang berlawanan.

Dimalam yang dingin, ditemani rintik-rintik hujan yang membasahi jembatan darurat tersebut. Jalan yang licin menjadi suatu kewaspadaan bagi kami. "Cepat sampai.. cepat sampai.. cepat sampai" itu yang ada di kepala gue saat itu sembari berdoa. 

"Kita telah melewati jembatan!" ucap sang supir kala itu. Jantung yang berdebar-debar dengan cepat mulai berkurang irama ketukannya, menandakan tenangnya hati ini telah tiba disebrang.

Tibalah gue disana, malam ini gue habiskan untuk menginap di disalah satu mes di pabrik jamur tersebut, karena jika menginap di hotel yang letaknya cukup jauh dari tempat kerja ayah gue, yaitu dibawah pegunungan. Sedangkan tempat kerja ayah gue berada diatas pegunungan, yah ibaratnya seperti bogor ke puncak deh. 

Malam itu gue habiskan untuk beristirahat dan mengingat kembali setiap detik demi detik ketika melewati jembatan darurat kala itu. Ditemani suara jangkrik ala perdesaan dan udara dingin yang menusuk sampai tulang.
***
Paginya...

Tak ada niat sedikitpun dibenak gue untuk mencicipi air dan mebasuhnya keseluruh tubuh gue. Bisa dibayangkan gimana air es freezer diguyur ke badan, ya itulah yang gue rasakan setiap kali mandi di tempat ini. Bahkan setelah buang air kecil untuk mebasuh si 'entong' saja abang enggan dik...

...kasihan si 'entong' terbujur lemas di tempat tidurnya.

Alhasil gue berhasil membuat rekor sepanjang hidup gue, yaitu 'Finalis Tak Mandi 3 hari berturut-turut'. You know lah, orang kece walaupun 3 hari gak mandi tetep saja kecehhh.\Bahkan disini gue mengenakan pakaian lapis 3, paling dalam kaos oblong, lapisan kedua sweeter, lapisan ketiga jacket. Bahkan air teh yang baru diseduh seketika dingin begitu cepatnya, misterius sekali tempat ini.

***
Malamnya gue disuguhkan cerita menarik oleh kakak gue dan beberapa pekerja disana. Danau Telaga Merdada, danau yang berfungsi sebagai irigasi oleh beberapa petani untuk mengairi ladangnya dan juga tempat beberapa ikan air tawar hidup. Bahkan sesekali, para petani menangkap dan menjadikannya lauk untuk mereka makan. Menyimpan misteri dibalik keindahannya..

"Di danau ini ada ikan gede banget, jarang muncul ke atas, temennya dedemit kayaknya" celetuk kakak gue. Saat itu juga gue ingin menombak ikan misterius itu dan menjadikannya ikan bakar saus padang atau saus tiram.

Ikan yang menjadi legenda di danau itu telah hidup bertahun-tahun lamanya disana. Usut punya usut selain ikan itu jarang menampakkan diri ke permukaan, kata penduduk disini "kalau kalian bisa melihat ikan tersebut, keinginan apapun akan terkabul", ini ikan apa Tuhan ya?

Gue gak percaya sih tapi rasa penasaran kala itu memaksa gue untuk melihat dibalik kebenarannya. Cerita demi cerita di ucapakan silih bergantian oleh para pekerja dan kakak gue, ditemani dengan cahaya api unggun yang menghangatkan tubuh kami kala itu. Menghabiskan malam hingga larut...

Ladang disekitar Telaga Merdada

Paginya gue mencoba untuk berkeliling danau dan pabrik jamur tersebut, sembari melihat - lihat keindahan alam yang terletak di danau Telaga Merdada kala itu. Pagi - pagi sekali, tampak dari kejauhan para petani sudah bersibuk - sibuk ria di ladangnya.

Gue telurusi setapak demi setapak jalan disekitar telaga tersebut, berharap rasa penasaran gue semalam terjawab disini, detik demi detik berlalu, menit demi menit terlewati. Akhirnya tak kunjung mendapatkan hasil, bejalanlah gue menuju dataran yang lebih tinggi. Sehingga, tampak keseluruhan kolam ditelaga tersebut, mengamati dengan seksama selama beberapa waktu, tetap tak kunjung mendapatkan hasil. 

Cukup lama gue menghabiskan waktu diatas sini, gue memustuskan untuk turun dan kembali untuk menyantap makanan yang telah disiapkan oleh tukang masak disana. Akhirnya, mitos tersebut belum menghasilkan suatu jawaban yang pasti, hanya Tuhan dan alam ini yang tahu kebenarannya dan tetaplah menjadi sebuah misteri yang tak pernah terungkapkan.

Cerita tentang pohon yang kembali berdiri setelah ditebang dilokasi pabrik dan beberapa cerita menarik tempat wisata di Dieng akan dilanjutkan di article berikutnya...

See you soon on the next article...

Byeee. muuachh...