Jelajah Dieng Part I
Dieng..
Jujur aja waktu itu gue gak tau Dieng itu apa, yang gue tau Dieng adalah suatu tempat yang ada di jawah tengah.
Gue hanya seorang bocah smp ingusan pada saat itu dan dipaksa ikut oleh ortu gue untuk pergi kesuatu tempat antah berantah yang belum pernah gue denger sebelumnya. Ya, intinya gue dipaksa ikut ke tempat ayah gue bongkar pabrik jamur di dataran tinggi Dieng.
Hmm.. dari pada gue dirumah menghabiskan liburan hanya bergelut dengan kumpulan kaset DVD ultraman yang sudah gue puter ribuan kali, bahkan gue tau ultramannya bakal ngomong apa. Akhirnya gue ikut.
Berangkatlah gue...
***
Usut punya usut, Dieng itu sudah terkenal dengan pemandangan hamparan pegunungan - pegunungan dan cuaca yang lumayan sangat dingin. Bahkan sepanjang mata memandang hanya ada puncak-puncak pegunungan yang di selimuti oleh pepohonan dan udara disini, asri, bersih, walaupun sedikit dingin.. sedikit.. Apalagi ketika kabut turun, rasanya ingin memeluk pacar yang jauh disana...
Jangan heran kalau good readers berlibur ke Dieng dan disepanjang jalan terdapat hamparan ladang kentang ataupun kol, bahkan banyak domba disini. Itulah ciri khas dari Dieng, karena tempatnya yang sangat dingin, sehingga banyak dijadikan lahan untuk tumbuhan maupun hewan yang hidup di daerah dingin.
Oh ya satu lagi, Dieng juga memiliki segudang mitos dan cerita-cerita misteri yang sudah sangat terkenal di telinga para travelers dan hikers. Dan semua itu akan kita bahas pada artikel gue dibawa ini...
***
Telaga merdada dan juga pabrik jamur yang dibongkar
...Ketika gue tiba disana, dua kata yang ada dipikiran gue 'Cold' and 'Awesome'. Kata 'antah berantah' tadi perlahan hilang dan berganti dengan kekaguman yang luar biasa.
Sepatah kalimat menghilangkan kekaguman gue sesaat "kita akan melewati jembatan darurat dari kayu" celetuk ayah gue.
Sepatah kalimat menghilangkan kekaguman gue sesaat "kita akan melewati jembatan darurat dari kayu" celetuk ayah gue.
Beberapa saat yang lalu terjadi longsor dan mengakibatkan rusaknya jembatan penghubung antara Wonosobo dan Dieng. Untuk sampai ke Dieng kita mesti melewati jembatan tersebut, begitu juga sebaliknya jika kita ingin ke Wonosobo.
"krek..krek..krek" tiap kali jembatan itu dilewati satu persatu oleh kendaraan secara perlahan. Terlihat antrian ketika melewati jembatan darurat ini. Takut dan menegangkan mungkin itu yang sedang gue pikirkan. Bagaimana tidak, sebelah kanan merupakan jurang dan sebelah kiri merupakan tebing dari bukit yang sedang kita lewati. Ditambah dengan kabut yang turun, menjadi pelengkap perjalanan kali ini. Pandangan kami yang terbatas, sekitar 50M memaksa kami menyalakan lampu jauh, sesekali melakukan 'deem' untuk memberi isyarat mobil diarah yang berlawanan.
Dimalam yang dingin, ditemani rintik-rintik hujan yang membasahi jembatan darurat tersebut. Jalan yang licin menjadi suatu kewaspadaan bagi kami. "Cepat sampai.. cepat sampai.. cepat sampai" itu yang ada di kepala gue saat itu sembari berdoa.
"Kita telah melewati jembatan!" ucap sang supir kala itu. Jantung yang berdebar-debar dengan cepat mulai berkurang irama ketukannya, menandakan tenangnya hati ini telah tiba disebrang.
Tibalah gue disana, malam ini gue habiskan untuk menginap di disalah satu mes di pabrik jamur tersebut, karena jika menginap di hotel yang letaknya cukup jauh dari tempat kerja ayah gue, yaitu dibawah pegunungan. Sedangkan tempat kerja ayah gue berada diatas pegunungan, yah ibaratnya seperti bogor ke puncak deh.
Malam itu gue habiskan untuk beristirahat dan mengingat kembali setiap detik demi detik ketika melewati jembatan darurat kala itu. Ditemani suara jangkrik ala perdesaan dan udara dingin yang menusuk sampai tulang.
***
Paginya...
Tak ada niat sedikitpun dibenak gue untuk mencicipi air dan mebasuhnya keseluruh tubuh gue. Bisa dibayangkan gimana air es freezer diguyur ke badan, ya itulah yang gue rasakan setiap kali mandi di tempat ini. Bahkan setelah buang air kecil untuk mebasuh si 'entong' saja abang enggan dik...
...kasihan si 'entong' terbujur lemas di tempat tidurnya.
Alhasil gue berhasil membuat rekor sepanjang hidup gue, yaitu 'Finalis Tak Mandi 3 hari berturut-turut'. You know lah, orang kece walaupun 3 hari gak mandi tetep saja kecehhh.\Bahkan disini gue mengenakan pakaian lapis 3, paling dalam kaos oblong, lapisan kedua sweeter, lapisan ketiga jacket. Bahkan air teh yang baru diseduh seketika dingin begitu cepatnya, misterius sekali tempat ini.
***
Malamnya gue disuguhkan cerita menarik oleh kakak gue dan beberapa pekerja disana. Danau Telaga Merdada, danau yang berfungsi sebagai irigasi oleh beberapa petani untuk mengairi ladangnya dan juga tempat beberapa ikan air tawar hidup. Bahkan sesekali, para petani menangkap dan menjadikannya lauk untuk mereka makan. Menyimpan misteri dibalik keindahannya..
"Di danau ini ada ikan gede banget, jarang muncul ke atas, temennya dedemit kayaknya" celetuk kakak gue. Saat itu juga gue ingin menombak ikan misterius itu dan menjadikannya ikan bakar saus padang atau saus tiram.
Ikan yang menjadi legenda di danau itu telah hidup bertahun-tahun lamanya disana. Usut punya usut selain ikan itu jarang menampakkan diri ke permukaan, kata penduduk disini "kalau kalian bisa melihat ikan tersebut, keinginan apapun akan terkabul", ini ikan apa Tuhan ya?
Gue gak percaya sih tapi rasa penasaran kala itu memaksa gue untuk melihat dibalik kebenarannya. Cerita demi cerita di ucapakan silih bergantian oleh para pekerja dan kakak gue, ditemani dengan cahaya api unggun yang menghangatkan tubuh kami kala itu. Menghabiskan malam hingga larut...
Paginya gue mencoba untuk berkeliling danau dan pabrik jamur tersebut, sembari melihat - lihat keindahan alam yang terletak di danau Telaga Merdada kala itu. Pagi - pagi sekali, tampak dari kejauhan para petani sudah bersibuk - sibuk ria di ladangnya.
Gue telurusi setapak demi setapak jalan disekitar telaga tersebut, berharap rasa penasaran gue semalam terjawab disini, detik demi detik berlalu, menit demi menit terlewati. Akhirnya tak kunjung mendapatkan hasil, bejalanlah gue menuju dataran yang lebih tinggi. Sehingga, tampak keseluruhan kolam ditelaga tersebut, mengamati dengan seksama selama beberapa waktu, tetap tak kunjung mendapatkan hasil.
Cukup lama gue menghabiskan waktu diatas sini, gue memustuskan untuk turun dan kembali untuk menyantap makanan yang telah disiapkan oleh tukang masak disana. Akhirnya, mitos tersebut belum menghasilkan suatu jawaban yang pasti, hanya Tuhan dan alam ini yang tahu kebenarannya dan tetaplah menjadi sebuah misteri yang tak pernah terungkapkan.
Cerita tentang pohon yang kembali berdiri setelah ditebang dilokasi pabrik dan beberapa cerita menarik tempat wisata di Dieng akan dilanjutkan di article berikutnya...
See you soon on the next article...
Byeee. muuachh...




Seru banget gan. Ayo kapan ke dieng lagi
ReplyDelete