Showing posts with label Jawa Timur. Show all posts

Arena Balap Pantai Camplong Sampang Madura

Selama gue di Madura tentunya gue menghabiskan masa liburan dengan berkunjung ke beberapa tempat wisata yang ada disini. Mulai dari pasar tradisional, persawahan dan kali ini sasaran gue adalah salah satu pantai yang ada di madura.

Yups, Pantai Camplong.. 


Awalnya sih, gue berniat untuk ke pantai Lombang di Sumenep, gosip-gosip-nya itu pantai memiliki pasir putih dan air lautnya yang biru. Tapi, fakta lokasinya yang berjarak 5 jam dengan menggunakan mobil dari tempat gue menginap, ditambah lagi pastinya kakak gue akan berpidato kenegaraan sepanjang perjalanan.


Mau tak mau, sudi tak sudi, rela tak rela tak rela tak rela, tujuan gue pantai Camplong yang berjarak sekitar 45 menit dari blega. 




Harga Tiket Masuk

Kendaraan roda dua      : Rp 5.000
Kendaraan roda empat  : Rp 10.000
Orang dewasa               : Rp 10.000
Anak-anak                    : Rp 5.000 

*Harga sewaktu-waktu dapat berubah, daftarkan diri anda secepatnya sekarang juga.


Rute Perjalanan


Lumayan mudah sih untuk menuju pantai Camplong. Alasannya selain karena jalannya yang cuman satu gak kayak jalan di Jakarta, jadi jalannya itu-itu aja tinggal ngikutin jalan. Kedua, karena jalannya dua arah bukan one way kayak di Bandung, ditambah lagi disini gak sistem buka tutup. So, lancaaarrr jayaa...

Peta mbah Google




"grenggg..greeenggg..greeengg" itulah suara yang menyambut gue pertama kali ketika tiba di tempat ini. Anggapan gue kala itu mungkin kapal-kapal nelayan lagi pada trek-trek-an di pinggir pantai..

...Setelah gue melewati loket pembayaran tiket.

Disambut dengan tukang jualan makanan dan minuman yang berjejer di pintu masuk. Sepanjang jalan para penjajah souvenir sibuk menawarkan souvenir kepada kami, tempat tissue yang terbuat dari kulit kerang sempat membuat gue terayu. Setelah gue berpikir keras, tissue kost-an yang gak ada tempat aja cepat abis, apalagi ada tempatnya. Pasti bakalan membuat gue semakin gak bisa move on dari tissue dan sabun...

Okeh lupakan tentang tissue dan sabun..



Tempat ini sudah cukup bagus, karena telah di kelola, entah oleh pemerintah atau swasta. Intinya, loket masuk, fasilitas dan jalan-jalan telah tertata rapi. So, gak usah khawatir kalau kebelet pipis, toiletnya bersih, lebih bersih dari wajah mantan.

Dibuat seperti taman dengan beberapa anak tangga mebuat pantai camplong ini lebih tepat dibilang taman dari pada pantai. Kalau bisa di bilang seperti pantai Ancol yang ada di Jakarta. Bedanya disini ada suara "greng.. grengg.. greng".

Akhirnya gue mencoba untuk menelusuri apa yang sedang terjadi di pantai ini. Beranjak dari taman, akhirnya gue mempercepat langkah gue menuju tepi pantai untuk melihat asal dari suara asing tersebut. 

Ternyata oh ternyata...

Suara asing tersebut bukan berasal dari nelayan yang lagi trek-trek-an atau ikan-ikan yang lagi pada nge-grombol nobar moto gp. 

Tapi para pemuda-pemuda yang imut sedang memacu motor diatas coklatnya pasir pantai. Bisa dibilang sirkuit sentul pindah ke Madura, ini pertama kalinya ke pantai disambut dengan pemandangan arena balap di pinggir pantai. Padahal gue berharap ada bule-bule bikini sedang nangkring atau gak minimal putri duyung lagi berjemur. 


Bekas perbuatan tidak senonoh para pembalap
Beranjak dari arena balap, gue memutuskan untuk kesisi lain pantai yang kala itu sedang surut. Sehingga, bentangan daratan-nya semakin melebar dari titik awal seharusnya. Beruntungnya gue kala itu, so, gue bisa menikmati indahnya lautan agak lebih jauh. 



Sedikit berbeda dengan sisi kiri pantai yang menjadi ajang arena adu balap motor gp internasional Madura. 

Tampak sisi kanan dari pantai ini di penuhi dengan beberapa pasir pantai dan batu kapur yang memberikan warna berbeda dari pantai Camplong. Spot yang bagus untuk taking beberapa photo lah. 



Ketika gue berjalan-jalan maju mundur cantik untuk menuju laut lepas, sepanjang perjalanan gue melihat lubang-lubang kecil banyak tak terhitung. Lubang-lubang tersebut seperti bekas lubang galian. 



Usut punya usut ternyata itu lubang yang dibuat kepiting untuk menambang emas berlindung dari para penjajah pantai yaitu manusia. Mereka berlindung agar tak ada yang mengganggu aktivitas mereka sehari-hari seperti mencari makan atau sekedar berjalan-jalan santai.

Tiba-tiba gue melihat beberapa kepiting sedang asik mengadakan party pinggir pantai, bercanda ria, berkumpul dengan sesama. Ketika gue mencoba mendekat mereka langsung lari kocar kacir meninggalkan kelompoknya dan menggali lubang secepatnya. 

"Ini apasih manusia, ganggu aja sok-sok mau ikutan party sama kita-kita" mungkin itu yang mereka pikirkan. Dasar kepiting sialan !!

Awalnya takut, tapi setelah proses perdebatan yang alot. Akhirnya gue dapat menangkap satu kepiting untuk diintrogasi, walaupun harus memberikan sedikit daging segar jari gue untuk dijadikan makan siang oleh mereka. 


Penampakan Mr Crap si kepiting pantai
Setelah puas mengintrogasi si Mr Crap. Akhirnya gue melepaskannya agar dia dapat kembali ke teman se-genganya...

Akhirnya kami bergegas untuk menuju laut, sekedar membasahkan kaki dan bermain air. Tentunya yang paling senang adalah keponakan gue yang masih sd. "Kecipak kecipuk" bermain air di pinggir pantai dengan memakai kacamata hitam, layaknya anak bule (sayang dia anak kakak gue). 


Tuhkan imut, sekilas gak mirip kakak gue.
Karena kesal melihat keponakan gue yang lebih imut dari gue, kala itu jua gue langsung meminta untuk di foto dengan mengajak seonggok keluarga gue. Kebetulan cwo semua yang foto it's show time, well, stay cool and be gentle broohh...



Entah ini imut, keceh atau terbilang alay beda-beda tipis. Tapi abaikan dua orang di depan fokus sama ke-imut-an dan ke-macho-an gue. Sekian, terima kasih !!

Setelah berlama-lama berjemur dibawah terik matahari, tentunya membuat kulit gue yang halus nan lembut jadi hitam abstrak. Kami memutuskan untuk kembali ke taman untuk berteduh di bawah pohon, sembari menikmati cemilan-cemilan yang kami bawa.

Ketika sedang asik bersantai dibawah pohon, keponakan gue mengajak untuk bermain ayunan yang terikat kokoh di bawah pohon. Karena dia merengek dan gue gak bisa menolak, alhasil gue menemaninya untuk bermain. Karena view yang bagus, terlintas di otak gue untuk mengabadikannya dalam bentuk photo.



Dan gue gak mau kalah dari keponakan gue kalau urusan imut-imutan. Sekarang gue yang main, keponakan gue yang photo..



Tuhkan...


...JELEK!! Okay fine, for this time gue mengaku kalah. Bhayyyy.

Perjalanan gue kali ini berakhir disini, setelah puas menikmati indahnya pantai Camplong Madura. Gue bergegas kembali kepenginapan tentunya dengan hati yang tersakiti..

See you on the next article.


Tambahan :

Indahnya tepi pantai Camplong

Hunting photo yang kebetulan bagus 

Luasnya pantai Camplong ketika surut

Taman di dalam pantai

Si pemenang keimutan kali ini

More Gallery : at my Instagram @fathurrhavy

Back to Nature to Madura

Hello good readers, genki desu ka?

Udah lama nih enggak exist di blog kesayangan, pasti pada nanyain ya gue kemana? Pastinya pada kangen bercampur cemas kan? Emang sih gue orangnya selain imut juga ngangenin. okehh cukup!

Alasan gue belum posting lagi, karena beberapa dekade yang lalu gue sedang menjalani masa liburan kuliah. Setelah 'bermumet-mumet' dengan soal-soal kalkulus yang ternyata lebih abstract dari wajah mantan. Well, saat itu juga gue memutuskan untuk ikut kakak gue ngebolang.

..Madura..

Ya, itulah tempat yang gue tuju kali ini. Berjarak sekitar kurang lebih 900 KM dari Jakarta. Memakan waktu sekitar 16 jam jika menggunakan bus. 9 jam dengan menggunakan kereta, turun di stasiun pasar turi dan transit dengan angkutan umum ke Madura. Sedangkan, 1 jam 30 menit menggunakan pesawat dari Jakarta menuju bandara Trunojoyo di Sumenep.

Jika lewat jalur darat kalian akan berjumpa dengan pemandangan yang sangat amajiiing bin ajib. Dengan panjangnya yang mencapai 5,438 M, berdiri tegak menantang nan kokoh, yaitu jembatan 'Suramadu'. Jembatan yang menghubungkan antara pulau jawa dan madura ini, menjadikannya jembatan terpanjang di Indonesia saat ini.


Madura, tempat yang jarang jadi tujuan wisata ini menyimpan banyak keindahan didalamnya. Alasan kenapa tempat wisata di Madura kurang terkenal, mungkin karena sistem adat dan keagamaan yang masih sangat kental... 

...Sekental cinta kuhh pada mu. Aseekkk..

Intinya selama gue disini jarang banget bahkan tak pernah melihat seorang bule sekalipun. Katanya sih, emang para ulama di madura masih belum setuju dengan kehadiran orang asing, terutama orang bule.

Bahkan konon katanya nih, tidak ada satu pun gereja di Madura, karena memang mayoritas orang madura adalah orang islam dan keislamanya tidak usah diragukan. Tapi, sekarang sudah mulai ada gereja disana, mungkin sifat toleransi beragama sudah mulai tumbuh disana. 

" Kak, ini orang madura pada abis sunatan ya? Pada make sarung semua" tanya gue.
"Swiiingggg, bruakkkk" pukulan sayang tepat bersarang di muka imut gue.
"Bukan abis sunatan, emang adatnya kayak gitu!!!" jawab kaka gue dengan sinis.

Hmm... Saat itu juga gue berfikir kalau orang madura ikutan lomba main bola pakai sarung pasti menang... Hmmm

Pokoknya sepanjang mata memandang kalian akan melihat sarung-sarung liar berkeliaran. Baik itu dipasar, orang naik motor, kang parkir, semunyalah pokoknya. Kecuali pegawai and pak pocis ya, ya kali pocis pake sarung.. Hadeeh..

Banyak sekali pondok pesantren di pulau madura ini, bahkan rata-rata orang Madura adalah lulusan pondok pesantren. Oleh karena itu, enggak usah shock liat orang Madura hafal yasin. Orang yang hafal Al-Quran aja berceceran banyaknya. 
Penunjuk arah menuju salah satu makam yang dikeramatkan.
Dikarenakan agama yang masih cukup kental, gue sering melihat banyak makam yang dikeramatkan. Baik itu makam para wali, kyai, dan lainnya, pokoknya makam-makam orang alim dan sakti mandraguna pada jaman dulu. Karena gue gak dibolehin untuk foto makamnya, takut fotonya blur atau terjadi sesuatu, jadi gue foto plang-nya aja ya sebagai oleh-oleh.

Konon katanya disalah satu jalan dekat tempat gue menginap, ada sebuah jalan yang tak bisa dilewati tanpa izin. Orang penunggan kuda ataupun pesepeda ketika melewati jalan itu akan mental atau terjatuh, karena jalan tersebut hanya bisa dilewati dengan berjalan ataupun seizin para ulama di sekitar daerah tersebut. 
Karena gue bukan holiday di kotanya, sesuai dengan tema kali ini yaitu 'Back to Nature'. So, mau gak mau ya gue hidup di pedalaman Madura, tapi gak terlalu pedalaman juga sih. Let's enjoy this holidayyy...

Bentangan persawahan dan ladang jagung pun seakan telah menyambut gue. Dengan pemandangan yang hijau nan asri, membuat gue melupakan sejenak suntuknya kehidupan kota. Menyegarkan diri dengan udara yang segar untuk dihirup dan memanjakan mata yang selama ini diisi dengan layar laptop berganti menjadi layar tumbuhan hijau yang membentang.
Blackberry khas madura yang langsung dipetik dari pohonnya.
Selama gue disini banyak banget tumbuhan yang gue temuin dari buah-buahan sampai sayur-mayur semua lengkap ada disini. Well, gak usah takut kelaparan, ada buah tinggal sikaaat. Tapi numpang-numpang dulu ya, tar yang ada abis makan malah modar lagi...


Nasib ayam kampung
Bahkan, gue makan ayam kampung, asliii langsung dari ayam yang lagi enak-enak lari kesana kesini bercanda dan kongko-kongko dengan kawan-kawan satu genknya. Tiba-tiba langsung ditebas dan berakhir di tungku kuali. Mungkin kalau ayam bisa ngomong mereka udah demo dan berunjuk rasa saat itu. 
Jagung, kelapa maupun tumbuhan lain terlihat lebih pendek dibandingkan yang biasa gue lihat. Itulah istimewanya tumbuhan disini, walaupun pendek, buahnya telah masak. Pohon kelapa setinggi 2 meter saja sudah dapat dipanen buahnya. Selain itu, selama perjalanan sering kali gue melihat pohon lontar, bahkan buah yang jatuh dan membusuk tak dihiraukan orang. 

Mungkin kalau di Jakarta udah diambil and dijual-jualin kali di emperan jalan...

Para penduduk yang terlihat dari kejauhan sedang mengarit rerumputan untuk mengumpulkan pakan sapi. Sedangkan yang lain sibuk mengumpulkan ranting-ranting pepohonan sebagai bahan bakar memasak mereka. Ya, penduduk sini kebanyakan masih menggunakan kompor berbahan bakar kayu.

Penduduk disekitar sini sangatlah ramah, walaupun kalian orang asing mereka akan menyapa. Bahkan, gue lagi markirin motor duduk-duduk dipinggir jalan, tiap orang lewat pasti nyapa gue. Serasa orang famous sih disini. Bahasa permisi orang sini adalah 'pamit' atau disingkat 'amit', terkadang gue iseng ngomong 'amit-amit'...hehe

Disela-sela perjalanan gue melihat suatu tempat yang cukup menarik. Yups, itu adalah sumur yang berada di tepi jalan. Kenapa bisa ada sumur?
Selain menggunakan sumber mata air, penduduk asli sini memanfaatkan sumur sebagai sumber air bersih. Well, siapa tahu ada rejeki nomplok lihat bidadari cantik lagi mandi di sumur, sembari menyiprat-nyipratkan air dan bercanda ria dengan suara yang lugu nan menggemaskan, dengan rambut yang digerai tertiup angin seperti di iklan-iklan shampoo  di tv...

...Tetapi kenyataan pahit yang gue lihat adalah bapak-bapak dengan kumis tebel sedang bercanda ria nan menjijikan, sedang memandikan anaknya...

Okay, lupakan tentang bapak-bapak kumisan tadi. Selama di perjalanan gue sering menjumpai orang-orang yang lanjut usia, bahkan terbilang udah sangat tua. Ya, you know lah orang kampung, makanan masih alami, tiap hari kerjaannya jalan, gimana gak panjang umur. Bahkan, gue masih sering melihat lansia yang sedang mengarit rumput atau mengumpulkan kayu bakar. Emang orang-orang sini pada gak bisa diem, padahal udah tua masih aja gerak. Gue aja kewalahan ngikutinnya.

Untuk umur gak usah ditanya mereka bener-bener udah lupa sama umur, saking tuanya kali ya, pokoknya mereka hidup dari jaman belanda masih menginvasi Indonesia, itulah yang mereka ingat. Sedangkan untuk bahasa sendiri jangan harap ngomong bahasa Indonesia, mereka gak akan ngerti, namanya orang tua.

...Disinilah saatnya menggunakan keahlian bahasa gue yaitu bahasa tubuh...



Inilah penampakan rumah-rumah penduduk disini, tembok bilik dengan lubang-lubang kecil yang dijadikan pelindung ketika malam tiba, dengan genteng-genteng tua sebagai pelindung ketika hujan turun. Ya itulah indahnya rumah-rumah tradisional yang ada disini. 

Setiap rumah yang ada disini memiliki lahan yang luas, karena yang tinggal lebih dari satu kepala keluarga, istilahnya berkelompoklah. Ditambah lagi, setiap rumah memilik 'Langgar' ya semacem mushollah gitu deh, selain untuk sholat langgar digunakan untuk berkumpul.  

Penampakan Kamar mandi penduduk disini
Hebatnya lagi setiap rumah kamar mandinya berada diluar, karena dapat digunakan secara bersama-sama. Istilahnya seperti kamar mandi umum lah. Uniknya kamar mandi ini tidak termasuk toilet, toilet terpisah agak jauh dari kamar mandi, letaknya di sekitar semak belukar. Yak, tepat, toiletnya berupa 'kakus' you know lah kakus bentuknya gimana...
Anak sapi
Harta orang sini adalah sapi atau dalam bahasa madura 'sapeh'. Hampir setiap rumah yang gue lewati memiliki kandang-kandang untuk memelihara salah satu hewan qurban ini. Tau sendiri harga seekor sapi satunya bisa seharga motor ninja. 


Selain menjadi petani, tentunya pekerjaan sampingan penduduk sekitar sini adalah membuat kerajinan batu bata. Dengan pengolahannya yang masih sangat sederhana, batu bata ini dapat dijual seharga Rp 500 perak satunya, lebih mahal dari yang ada di Jakarta tentunya. Karena batu bata yang ada disini jauh lebih besar, ketimbang yang sering kita lihat. Batu bata ini dijadikan sampingan oleh warga sini..

...itung-itung sampingan lah untuk credit mobil.. 
Satu lagi yang gue kagumin dari orang-orang yang ada disini adalah mental dan nyali mereka, bayangkan berjalan sendirian di tengah semak belukar bahkan bisa dibilang hutan. Kalau siang sih it's oke, kalau malam tanpa ada penerangan hanya bermodal senter dan clurit, mereka keluar untuk menghadiri pengajian atau hanya sekedar berjalan ke masjid ataupun warung.

Kalau gue mah udahnya nyerah dan melambaikan tangan kali, disuruh keluar malam-malam. Hayatiiii atut banggggg....



Selama disana gue iseng-iseng berjalan kesana kemari, alhasil gue tersesat disuatu dataran tinggi. Madura memiliki banyak dataran tinggi, bisa dibilang bukit. Kalau gunung kayaknya gak ada sih. Tapi pemandangan dari atas sini ga jauh beda dari puncak bogor.

Hanya saja udaranya tetaplah panas, itulah yang membuat gue penasaran, walaupun berada di atas bukit udaranya tetaplah panas. Kalau kalian merasa Jakarta udah panas, silahkan datang ke Madura dan nikmati hangatnya matahari yang terasa sampai ke ubun-ubun.


Katanya, jaman dahulu Madura ini adalah daratan yang ada didalam laut, dengan proses ini itu yang rempong, akhirnya dataran ini muncul ke permukaan. Teori ini bisa dibuktikan, masih ditemukannya batuan yang menyerupai terumbu karang yang berada di puncak-puncak bukit. Itu sih yang gue lihat selama berada di atas bukit sini. Jadi kalau dipikir-pikir teori itu masuk akal... 

...seperti biasa, sok tau aja sih gue.


Ya, itulah perjalanan selama gue di Madura, intinya banyak pelajaran yang gue ambil dari liburan kali ini. Pokoknya Madura mengajarkan gue banyak hal yang tak bisa gue temukan di kota-kota besar. Pengalaman berharga selama disini bakalan terus gue ingat dan jadi acuan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Terkadang menjadi tradisional itu perlu di jaman yang sudah serba modern ini.


Bonus rujak khas Madura, masih super alami bahan-bahannya.
See you on the next article guyss. I love youuu.

"sometimes we have to look down to appreciate what god has given to us. Sometimes, Being simple teach us a lot of things to be a good person"

Inilah Fakta Unik Mengenai PLTU Paiton

Berhubung kemarin gue membuat article mengenai Study Tour to Bali dan disitu gue menyinggung tentang kehadiran si PLTU Paiton ini. Dan lagi, kebetulan kampung gue yang terletak di Banyuwangi, memaksa gue melewati PLTU ini setiap kali gue melewati jalur Pantai Utara (Pantura). 


...So, mari kita telisik lebih jauh mengenai si Paiton ini, semua akan dikupas secara tajam, setajam silat !!..

 Apa itu PLTU ?
P = embangkit
L = istrik
T = enaga
U = ap

Jadi, PLTU itu adalah Pembangkit Listrik Tenaga U..U..Udaaang. Jayus!

PLTU Paiton?
Alasan kenapa dinamakan 'Paiton' karena lokasinya yang terletak di daerah paiton, desa Binor, Probolinggo, Jawa Timur. Selain itu, berbatasan dengan Selat Madura di sebelah utara, Kecamatan Kraksaan di sebelah barat, serta Kabupaten Situbondo di sebelah Timur. 


Jika kalian melewati jalur pantai utara menuju bali, tentunya akan melewati pembangkit yang satu ini. Kesan pertama gue melihat paiton, pastinya norak, kudet, apalah ituuu. Intinya, gue bener-bener takjud, karena memang keren abis sih tempatnya. Yaaa, buat selfie-selfie ala anak alay-alay yang cuci-cuci jemur-jemur, it's okehhh lahh..

Tak jauh dari tempat tersebut, apabila kalian telah melewati paiton, kalian akan disuguhkan dengan pemandangan tepi laut yang sangat indah, dihiasi dengan rimbunnya pohon mangrove dan kepiting-kepiting yang lagi party ditepian mangrove. Ditambah lagi, jarak antara jalan dengan tepi laut benar-benar dekat, bener-bener pemandangan yang 'Amajinggg' deh pokoknya.... 

Paiton ini cukup unik karena letaknya yang cukup strategis, yaitu dipinggiran pantai .Ditambah lagi jika kalian belum melihatnya secara langsung, kalian pasti akan terkagum-kagum dengan keindahannya dan besarnya pembangkit yang satu ini.


Usut punya usut, sistem pembangunan PLTU Paiton ini, seperti pulau-pulau buatan yang ada di Dubai, Qatar. Karena di bangun diatas 'urukan' pasir, batu kali dan material lainnya. Jadi tidak heran dengan bentuk datarannya memiliki tampilan yang unik dan indah. 


Ya, memang pembuatanya dirancang diatas daratan yang telah dirancang oleh manusia. Itulah salah satu kehebatan dan kehindangan dari si salah satu pemasok listrik untuk pulau jawa-bali. 


Pembangkit yang di miliki oleh PT Paiton Energy ini resmi beroperasi pada tanggal 12 Maret 2012. Kemunculan PLTU yang satu ini sangat berdampak pada pasokan listrik yang berada di pulau Jawa dan Bali. Denger-denger sih katanya, Paiton merupakan PLTU terbesar di Indonesia dengan memasok asupan listrik untuk pulau Jawa-Bali sebesar 815 Mega Watt (MW). 

Menurut survey dan data yang gue peroleh, untuk menghasilkan pasokan listrik yang sangat besar tersebut dan menghidupi listrik di pulau Jawa-Bali. Paiton tidaklah menggunakan BBM, melainkan batu bara, karena pasokan batu bara di Indonesia sangatlah melimpah. PLTU Paiton ini membutuhkan batu bara setidaknya 3.5 juta ton/tahun.

...Itu kalau di Rupiah-kan, mungkiiin gue bisa beli cimol sampai ke anak-cucu gue. Hmm...

Menurut data hasil survey gue selama 1 dekade, tenaga kerja yang terserap di PLTU Paiton 3 sebanyak 7.000 orang yang sebagian besar atau 95% penduduk lokal, sedangkan 5% penduduk dari luar Probolinggo dan asing. Sedangkan setelah beroperasi tenaga kerja yang terserap sebanyak 387 orang yang mayoritas atau 90% penduduk Probolinggo dan 10% penduduk dari luar Probolinggo dan asing.


Belum lagi ditambah dengan, para pekerja yang berasal dari luar, mau tak mau mereka harus menyewa sebuat tempat untuk mereka menetap dan bertempat tinggal. Lagi, pihak penduduk lokal yang diuntungkan, karena mereka dapat menyewakan rumah mereka, hitung-hitung penghasilan tambahan.

Belum lagi warung, rumah makan, rumah singgah, rumah remang-remang, bahkan rumah-rumahan.. Enggak deng, canda-canda...hehe

Menurut data yang gue peroleh dari hasil copy and paste, banyak warga yang menyewakan rumah untuk karyawan maupun mitra kerja PLTU Paiton. Tarif sewa untuk satu rumah bervariasi, yakni terendah Rp 16 juta hingga tertinggi Rp 25 juta/tahun. 

Intinya dengan adanya PLTU Paiton ini, benar-benar menarik dan memberikan banyak keuntungan bagi warga sekitar. Selain aliran listrik yang merata dan ditambah lagi dengan pundi-pundi emas yang merata pula. 


Oh ya, pemandangan paiton di siang hari dan malam hari sangatlah berbeda. Sedikit luangkan waktu kalian, jika kalian berkunjung ke tempat ini dan lihat lah perbedaan Paiton di siang hari dan malam hari.


Dimana jika malam telah menyosong, paiton akan berubah wujud menjadi pembangkit yang dipenuhi dengan sorotan lampu-lampu yang menghiasi. Terang benderang ditengah kegelapan malam. Keindahan akan lampu-lampu yang menghiasi paiton, melebihi indahnya wajah sang manta di pagi hari.. eyaaa..

Tambahan:

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya sekitar bulan februari lalu. Menurut kabar, ada seekor hiu paus atau Rhincodon terseret dan terjebak di dalam kanal PLTU Paiton. Menurut beberapa pendapat ahli, terseretnya hiu paus ini dikarenakan gelombang laut yang besar dan menyebabkan sang hius paus terjebak di kanal selama beberapa waktu dan pada akhirnya mati.


Upaya penyelamatan telah direncakan, akan tetapi mungkin karena penyelamatan yang agak lama dan faktor medan yang tak memungkinkan. Menyebabkan hiu paus ini mati. Penyebab kematiannya sejauh ini dikarenakan luka yang diterima, menyebabkan daya tahan tubuh sang hiu paus menurun dan ditambah lagi dengan infeksi jamur. 

Hiu paus tutul ini merupakan salah satu hewan yang dilindungi oleh pemerintah indonesia. 


Begitulah mengenai fakta unik PLTU Paiton dibalik kemegahan dan keindahannya, semoga menambah wawasan good readers sekalian..

As usual. See you one the next article.. I love u.

Pantai Watu Dodol Pesona Banyuwangi

Patung Gandrung

Perjalanan ke banyuwangi mengingatkan gue akan masa lalu ketika gue melewati jalan ini sekitar empat tahun yang lalu bersama rombongan dari SMA 13 Jakarta. Jejak-jejak ketika kami hampir tiba ke pelabuhan Ketapang begitu terasa teringat oleh gue. Begitu rindu mengingat hal yang sangat indah ketika itu saat gue duduk di bangku kelas 2 SMA.

Sekarang semua itu hanya tinggal kenangan yang menjadi saksi kuat dijalur utara pulau Jawa, lebih tepatnya akses Situbondo dan Banyuwangi. Saat ini gue menyusuri jalur yang dulu pernah gue lewati bersama kawan-kawan gue. Tapi kali ini gue menyusuri kembali jalur tersebut bersama keluarga.


Watu Dodol..

Ya, itulah tempat dimana gue mengingat kembali semua memori yang ada diotak gue. Kali ini tujuan destinasi gue adalah 'Pantai Watu Dodol'. Sebelum itu gue mau bercerita sedikit mengenai watu dodol. 

***

Once upon a time...

Pada jaman penjajahan Belanda dahulu Residen Schophoff membuat jalan yang akan menuju Panarukan dari Banyuwangi, namun jalan itu terkendala oleh adanya bukit, pada saat itu seorang dari pemerintahan banyuwangi yang bernama Tumenggung Wiroguno I, mengadakan sayembara kepada masyarakat siapa saja yang bisa membuat jalan tembus melewati bukit akan diberi hadiah berupa tanah dari bukit batu itu ke selatan sampai daerah Sukowidi.

Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu begitu saja, sayembara dari Tumenggung Wiroguno I tidak ada yang bisa menyanggupi tantangan tersebut. Sampai pada suatu ketika sang Tumenggung ingat akan penasehatnya dulu yang bernama Ki Buyut Jaksa.

Ki Buyut Jaksa adalah seorang sakti bekas penasehat Tumenggung Wiroguno I yang menyendiri di pinggiran bukit Boyolangu. Di pengasingan Ki Buyut Jaksa mengangkat anak bernama Nur Iman. Nur Iman adalah anak dari Lemani yang menemani Ki Buyut Jaksa di pengasingan.

Singkat cerita Tumenggung Wiroguno I berhasil membujuk Ki Buyut Jaksa untuk membantu membuat jalan melewati bukit batu. Ki Buyut Jaksa dengan bantuan Jin beserta anak buahnya dan dipimpin oleh anak angkatnya Nur Iman berhasil membuat jalan melalui bukit batu tersebut. Bantuan dari bangsa Jin ini tentunya tidak gratis, ada tiga syarat yang harus dipenuhi yaitu:

1. Jangan mendodol ( membongkar ) batu diluar batas yang diberi tanda oleh bangsa Jin.

2. Sisakan seonggok batu untuk duduk di pinggir pantai.
  
3. Minimal setahun sekali, Ki Buyut Jaksa dan anak cucunya harus menyambangi tempat ini.

Oleh karena itu tempat wisata tersebut diberi nama Watu Dodol, dan 'Watu Dodol' sendiri berasal dari bahasa jawa yang berarti  'Dodol' itu adalah 'bongkar”, sedangkan 'Watu' adalah 'Batu'.

Setiap tanggal 10 Syawal masyarakat Boyolangu selalu berbondong-bondong pergi ke Watu Dodol menggunakan dokar ( Kereta yang ditarik oleh kuda ). Peristiwa tahunan ini disebut tradisi 'Puter Kayun'.

***

Selain legenda terdapat juga cerita atau mitos-mitos mengenai watu dodol. Salah satunya ketika jepang menjadikan Watu Dodol sebagai perlindungan pada Perang Dunia II. Jepang ingin menyingkirkan batu tersebut menggunakan kapal dengan cara ditarik, alhasil bukan batunya yang bergeser tetapi kapalnya yang tenggelam.

Gue juga pernah diceritain sama nyokap gue. Watu Dodol itu dulu pernah dicoba untuk dipindahkan atau dihancurkan, alhasil bukannya batunya yang hancur tapi malah alat-alat beratnya yang rusak atau tidak menyala, entah apa karena alat beratnya yang rusak atau batunya yang sangat keras atau bahkan karena ada kekuatan-kekuatan gaib disana. Begitulah mengenai Watu Dodol banyak kisah-kisah yang diluar nalar manusia yang cukup membuat kita penasaran.

***

Begitulah ceritanya mengenai Watu Dodol...

Berpindah sejenak dari Watu Dodol yang penuh dengan kemisteriusannya. Beberapa puluh meter dari tempat watu dodol tersebut terdapat area wisata yang begitu terkenal disana dan cukup menarik untuk disambangi. 



Pantai Watu Dodol..

Pantai yang menjulang cukup panjang ini disepanjang jalan, membuat gue menjadikannya sebagai tujuan utama wisata gue ketika di Banyuwangi dua tahun yang lalu. Walaupun tak seindah pantai Kute atau pantai pasir putih lainnya. Pantai Watu Dodol cukup menarik untuk didatangi karena, selain letaknya yang berada di pinggir jalan. Pantai ini tidaklah seperti pantai lainnya, diselimuti dengan pasir hitam yang menjadi pembatas antara daratan dan laut biru yang sangat memanjakan mata. 

Walau pasirnya tak seputih dan sehalus pantai Kute yang ada di Bali, tetapi itulah yang menjadikannya daya tarik. Dengan warna hitam pekat yang menjadikan ciri khas pantai ini. Akan tetapi walau pasir yang hitam pekat, gelombang ombak yang menghembaskan sisi pantai tersebut terlihat begitu biru. Itulah yang menjadikan pantai ini menarik. 

Seraya menikmati pantai ini kita dapat berjalan disepanjang pantai menikmati desiran hembusan angin dan ombak yang silih berganti, atau sekedar berfoto ria di atas pohon putih yang menjadikannya suatu gradiasi warna yang indah diatas pasir hitam.


Dengan pemandangan yang memanjakan mata sejauh mata memandang, dimana diseberang pantai ini terletak sisi lain dari pulai Bali yang begitu jelas. Seraya memandangi pemandangan kita dapat memesan minuman atau makanan yang disediakan oleh para penjajah makanan dan minuman disini.

Duduk ditepi pantai ditemani dengan segelas es kelapa murni, dengan cemilan di warung-warung pinggir pantai. Melihat pemandangan laut yang jauh membentang dan indanya pulau bali, terkadang kapal-kapal pesiar maupun nelayan melintang melewati lautan tersebut.



Untuk akses jalan, jika kalian melewati Jalur Utara pulau Jawa kalian akan melewatinya sebelum tiba di Pelabuhan Ketapang. Sedangkan jika dari kota Banyuwangi cukup berpatokan pergi menuju ke pelabuhan Ketapang, karena dari pelabuhan Ketapang jaraknya tak begitu jauh.

Tambahan:

Bunker peninggalan Jepang pada Perang Dunia ke II 

Sumber air tawar di daerah dekat air laut


Ya, begitulah perjalanan gue kali ini di Watu Dodol mungkin bisa jadi salah satu destinasi para Good Readers yang mau liburan ke banyuwangi.

"Sometimes being black is better than being white"