Wisata Bogor Curug Country khas Jonggol

"Bapak mana... bapak manaa.. di Jonggol.. di JONGGOLLL !!" 

Ya, inilah tempat tercipta dan ditemukannya seorang makhluk asing atau sering kita kenal dengan 'Sony Wakwaw'


Jonggol merupakan suatu daerah yang berada di kabupaten Bogor, selain menyimpan 'Sony Wakwaw' di dalamnya, ternyata banyak tempat menarik yang bisa kalian temukan disini. Mulai dari perumahan, gunung batu, dan beberapa curug yang tentunya kece abis. 


"Kak, hari terakhir libur nih. Pergi yuk" ajak gue

"Kemane?" tanya kakak gue
"JONGGOLL !!" jawab gue
...Swwiiiinggg, alhasil tempe baru digoreng mendarat di wajah gue...
"Serius jirr !" kaka gue kesel
"Hoams.. Seriusan ini gue, kita ke Curug Country yang ada di cariu" berusaha menenangkan
"Ohh gitu, okay cauu" ajak kaka gue

Curug Country...


Banyak orang jadi fotonya gak maksimal
Itulah tujuan gue kali ini untuk mengisi liburan terakhir kali ini. Kata orang-orang sih tempat ini seperti miniatur dari air terjun Niagara yang ada di negeri paman Sam tersebut. Curug yang menjadi salah satu tempat wisata oleh warga sekitar ini, cukup ramai oleh pengunjung jika akhir pekan tiba. 

Disarankan ketempat ini pagi hari atau hari biasa, karena waktu gue kesini, bertepatan hari libur dan siang hari. So, you can describe it from the picture above. 

Akhirnya gue browsing sana sini, bahkan mbah google jadi pelampiasan terakhir untuk menemukan lokasi dari si curug Country ini yang merupakan salah satu tempat wisata di bogor. Lagi-lagi menemukan jalan buntu, bahkan google maps mbah google tak bisa berbuat banyak. Soo.. akhirnya gue kesana dengan modal nekat dan bertanya sana-sini.

... Nah ini rute hasil dari ke sok tahuan gue, semoga good readers gak bernasib sama dengan gue.


Rute perjalanan :

Dari Cibubur kalian ambil arah ke jonggol, melewati fly over Cileungsi, ikuti jalan, bertemu mekasari,lurus lagi, bertemu dengan perumahan Citra Indah.

Lurus terus, bertemu dengan simpang tiga, pilih jalur lurus, ikuti jalan, bertemu dengan simpang tiga kembali, ambil jalan lurus, bertemu dengan pasar Cariu. 


Saran, dari pasar Cariu lebih baik kalian bertanya, karena lokasi curugnya tak jauh dari pasar Cariu. Kurang lebih sekitar 3 KM. Lebih tepatnya berada di desa Tanjung Rasa, Kec Tanjung sari, Jonggol, Bogor.

Pengalaman, gue sampai pusing 7 keliling mencari dari lokasi si curug yang imut ini, karena tak ada plang besar penunjuk jalannya. Alhasil, yang gue temukan adalah plang kecil sekitar 20x40 cm, itu juga posisinya dekat dengan curugnya. 

...Arggghhhh...

Patokannya dari jalan raya Jonggol-Cariu, pangkalan tukang ojek dan pohon besar, sebelah kanan jalan dari arah pasar Cariu. Telusuri jalan dan kalian akan menemukan lapangan dari tanah merah disebelah kanan jalan, posisi curugnya tepat berada di depan lapangan tersebut atau disebelah kiri jalan. 


***

Untuk pengelolaanya sendiri curug ini cukup baik, walaupun masih kurang tertata rapi dan beberapa fasilitas masih belum mencukupi. Seperti tempat sampah, tempat makan dan toilet. Itulah kenapa gue, mencari semak-semak untuk berpipis-pipis ria...


Tapi disepanjang jalan menuju pintu masuk curug, kalian akan menjumpai beberapa villa yang disewakan. Range harganya sekitar 2-4 jt/hari.

Tiket masuk ke curug Country sekitar RP 25.000/orang. Mahal ya? Emang! Hiks.. 

Tapi semua terbayar setelah melihat keindahan dari curug Country ini.

Track yang dilalui
Dari tempat penitipan mobil/motor, kita harus berjalan kembali, dengan track yang masih alami, menanjak,menurun dan mendatar, 7 huruf... azzzz...

Perjalanan kurang lebih sekitar 300 M untuk sampai di curug Country ini.

Saran gue sih, gunakan sepatu atau sendal khusus track luar seperti ini. Cara simplenya sih lepas sendal biar gak kepleset.

Sepatu kesayang, melebih sayang kepada mantan.
Tapi semua akan terbayar ketika kalian sampai dan melihat indahnya aliran air curug Country. Bahkan tebing dan bebatuan yang terukir alami seperti pola yang dipahat oleh manusia.

Ganteng banget sih mas...
Aliran air curug Country.

Karena tebing curug yang masih alami, so berhati-hatilah karena tebing yang sedikit berlumut dan licin. Disinilah gue terjatuh dan jadi tontonan imut para pengunjung disana, karena wajah imut gue yang mendukung. Sooo... Stay Cool. :D

Yok di panjat dipanjat.

Itulah keren-nya curug ini, selain kalian bisa bermain air di dasar kolamnya. Tentu tebing dari curug ini dapat kalian panjat. Seraya berselfie-selfie alay ala anak jaman sekarang.. Hihihi..

Jika kalian ngakunya bernyali besar, sok atuh mangga, dipanjat hingga tebing tertinggi. Dengan aliran air yang cukup deras, track untuk memanjatnya pun cukup sulit dan licin.

I'm Hulk.. Argggghhh
Selain bentuknya yang ber-undak-undak. Curug ini terbagi atas dua bagian, satu bagian atas yang merupakan tempat curug utama dan bagian bawah yang merupakan terusan dari curug utama.

bagian bawah
Jika kalian lapar atau haus diperkenankan untuk membawa makanan atau minuman dari luar. Tapi don't worry be happy, karena disekitaran curug terdapat beberapa warung warga yang menyediakan minuman dan makanan ringan. 

Disalah satu warung, menyediakan tempat untuk berganti pakaian,lLumayan bayar Rp 2.000. Karena gue anak kost-an dan dua ribu itu berharga, lebih baik mencari semak-semak untuk ganti pakaian, sekalian ngajak anak orang kesemak-semak. Hihihi...

Well, tempat ini lumayan dijadikan salah satu destinasi wisata alam yang ada di Jonggol, Kab Bogor. Sembari menghabiskan liburan dengan bermain air dan melihat cabe-cabean, siapa tau ketemu cabe beneran.

Semoga bermanfaat, See you on the next article. I love you..

Tambahan:







Tersesat di Hutan Manggrove Pantai Indah Kapuk

Beberapa hari yang lalu, karena dorongan hasrat seorang temen gue yang sedang libur kerja. Dengan tampang yang sedih sembari memohon dengan nada yang memelas kasihan "Rhavy...Rhavy...Mau gak nemenin gue liburan? Rhavy baik deh.. ganteng.. imut lagi.. mau ya..mau yaa"  ujar dia..

Mau gak mau hati gue yang luluh langsung meng-iya-kan. Akhirnya gue terjerumus untuk nganterin dia pergi berlibur...


...Hutan Manggrove...

Penampakan dari atas

Kali ini gue diculik ke daerah  hutan dan rawa-rawa oleh si gadis cantik ini yang akrab di panggil 'Manda'. Entah apa yang akan dia lakukan gue pasrah aja. 


Akses perjalanan:

  1. KRL turun di Kota - Naik BKTB di halte busway - Turun di sekolah Tsu Chi International School
  2. KRL turun di Kota - Naik Gojek (tujuan jl mandara) jangan tulis hutan manggrove, gak akan ketemu
  3. KRL turun di Kota - Naik taksi
  4. Menggunakan BKTB (Bus Kota Terintegrasi Busway) Transjakarta Monas-PIK, turun di Sekolah Tzu Chi
  5. Naik Transjakarta arah Pluit, turun di halte Penjaringan, transit arah Pantai Indah Kapuk dengan BKTB, turun di Sekolah Tzu Chi
  6. Motor lewat akses grogol dan pluit
  7. Dari arah tol Bandara Soekarno-Hatta, keluar tol arah Kapuk Muara, Pantai Indah Kapuk arah Waterboom, Golf & Garden House, Sekolah Tzu Chi
  8. Dari tol JORR Lingkar Barat keluar Pantai Indah Kapuk belok kiri lewat Golf & Garden House, Sekolah Tzu Chi
  9. Dari tol Pluit keluar Muara Karang masuk Pantai Indah Kapuk, Rumah Sakit PIK, Waterboom Golf & Garden House, Sekolah Tzu Chi
Silahkan pilih sendiri rute yang menurut kalian nyaman.

Sekolah Tsu Chi International School

Hutan manggrove yang terletak di sudut kota Ibukota Jakarta ini sangatlah jauh dari hiruk pikuk sibuk dan kemacetan Jakarta. Terletak di kawasan Pantai Indah Kapuk yang terkenal dengan kawasan orang elit dan tajir-tajir, bahkan artist dan beberapa pejabat mendiami tempat ini. 




Walaupun begitu, kehadiran hutan Manggrove ini memberikan suasana baru. Deretan hutan Manggrove yang masih hijau dan alami. Dengan air payaunya yang memberikan warna baru di tengah padatnya kota Jakarta. 


Waktu buka dari jam 08.00 hingga 18.00, pastinya puas berada disini seharian.

Rincian Tiket Masuk:

  1. Turis Dalam Negeri : Rp 25.000/orang
  2. Turis Mancanegara : Rp 250.000/orang
  3. Parkir Motor            : Rp 5.000
  4. Parkir Mobil            : Rp 10.000
  5. Parkir Bus                : Rp 50.000
  6. Parkir hati kamu di hati aku : freee (aseeeeeekk)
Ya, itulah rincian harga yang gue lihat terpampang di pintu masuk Hutan Manggrove ini. Walaupun berbeda dengan yang ada di ticket. Waktu gue kesana, di ticket tertera Rp 20.000 sedangkan di pintu masuk Rp 25.000. Tapi it's okay lah, namanya liburan berapapun harganya hajar brooo.

Ingat bro, segala jenis kamera dilarang keras ditempat ini ! Tapi kamera handphone boleh lah..

Penampakan awal pintu masuk
Pokoknya gak bakal nyesel deh kalau kalian kesini, dijamin seru abiezchhhh....

Tempat ini memang cukup baik dalam soal pengelolaannya. Oleh karena itu jika kalian berjalan sedikit dari pintu masuk, kalian akan menemukan beberapa kantin disini. So, gak usah takut kelaparan. 

Tapi, jika kalian ingin membawa makanan dari luar kayaknya sih boleh-boleh saja, soalnya waktu gue kesini, banyak yang membawa makanan dari luar...

Wahana wisata yang ditawarkan ditempat ini juga cukup banyak macamnya. Selain menikmati deretan pohon Manggrove  yang unik dan cantik, bagi kalian yang membawa dede-dede gemes kesini, tenang disini ada arena permainan anak-anak..

...Walaupun yang gue lihat waktu itu, emak-emak and cabe-cabean sih yang sedang selfie-selfie and ketawa cekikikan di arena tersebut. 


Jalan-jalan setapak yang terbuat dari kayu-kayu menambah kesan alami untuk menikmati pemandangan setiap pohon manggrove yang kita lewati..

Selain fungsinya untuk menahan abrasi dan pemecah ombak. Pohon Manggrove menjadi tempat bermukimnya para satwa dan tumbuhan lain disekitarnya. Ibaratnya perumahan elit bagi para ikan dan hewan-hewan lainnya. 

Jadi jangan heran, jika kalian bisa melihat beberapa satwa yang masih hidup alami di hutan Manggrove ini. Mulai dari kepiting yang lagi asik nongkrong sama temen-temenya, ikan-ikan yang sibuk kesana kemari tak punya arah tujuan, bahkan biawak yang lucu nan menggemaskan...

...rasanya ingin gue goreng tuh biawak.



Fungsi lainnya sebagai paru-paru kota, karena pohon manggrove dapat mengurangi kandungan polusi di udara dan mengolahnya menjadi oksigen yang dapat kita nikmati kesegarannya.

Well kehadiran si Mangrove ini di tengah kota Jakarta, memang bermanfaat sekali...

Sedikit bosan dengan pemandangan Manggrove yang itu-itu saja?

Berjalan sedikit ke sudut taman wisata ini kalian akan menjumpai bangunan menjulang tinggi, dengan rentetan tangga kayunya.


Bangunan konservasi burung atau tempat pengamatan burung-burung adalah salah satu wahana yang ditawarkan ditempat ini. Disini kalian dapat menikmati indahnya taman wisata Manggrove dari atas dan melihat beberapa burung bangau atau burung-burung liar, sedang bertengger diatas pohon Manggrove.

Tapi jangan ngeliatin burung yang lain yaa...

Deretan tangga kayu di menara pengamatan burung
Setelah berpuas-puas menikmati pemandangan burung-burung yang sedang ngerumpi diatas Manggrove. Turunlah sejenak dan kembali menikmati jalan setapak yang terbuat dari kayu. 

Tak jauh dari menara, kalian akan menjumpai jembatan yang cukup panjang. Spot terbaik untuk take beberapa foto, bagi kalian yang hobby selfie dan photography disini menurut gue spot terbaik untuk berfoto-foto. 

Sekedar foto-foto alay atau kayak ala boyband.. hmm.. not bad lah.

Ketika gue kesini, rata-rata orang yang masuk ke area taman wisata Manggrove ini pasti membawa tongsis (selfie stick) untuk mengambil beberapa foto mesra bersama pacar atau foto keluarga. 

Memang segala jenis kamera dilarang ditempat ini, akan tetapi waktu gue masuk ke dalam malah ada yang membawa DSLR. Enggak tau sih dia udah izin atau belum.

Saran kalau mau bawa kamera, bawalah kamera go-pro atau kamera pocket, bisa diselipin di area yang sensitif. So, aman kalau ada pemeriksaan, walaupun kalau digunakan agak bau-bau gimana gitu...

Intinya sih, jangan iri kalau kesini melihat banyak pasangan muda mudi sedang asik berselfie-selfie mesra. Saran gue sih, kalau kesini mending bawa gebetan atau pacar, kalau gak ada minimal pacar orang deh bawah, biar gak kesepian and iri gitu. Untung gue kesini sama temen gue yang cewek, so gak keliatan jones-jones amatlah...

...sebenarnya sih gak pasangan muda mudi sih, om dan tante-tante juga banyak berkeliaran di area ini.


Contoh mbak-mbak lagi galau mikirin ke-imutan gue..
Bagi kalian yang kurang puas untuk berjalan di hutan ini selama seharian atau ingin menikmati suasana malam di tempat ini, don't worry be happy. Karena taman wisata Manggrove ini menyediakan beberapa penginapan untuk bermalam ditempat ini.

Bahkan, waktu gue kesana ada bekas-bekas orang selesai mengadakan acara, kayak camping atau acara kepramukaan gitu deh..

Harga penginapan:

  1. Rumah tenda (camping ground) di atas tanah: Rp 300.000/malam, kamar mandi luar, max 2 orang
  2. Rumah tenda di atas air tanpa AC: Rp 450.000/malam, kamar mandi luar, max 2 orang
  3. Rumah tenda di atas air dengan AC: Rp 600.000/malam, kamar mandi luar, max 2 orang
  4. Villa : mulai dari Rp 1.300.000 hingga Rp 6.000.000 per malam

Jika kalian ingin menikmati rentetan pohon Manggrove melalu jalur air, be calm. Tempat ini juga menyediakan wahana seperti perahu ataupun kano, bagi wisatawan yang ingin berkeliling di area air payau. 

...Jika kalian menikmatinya dari atas air, tempat ini serasa seperti hutan-hutan yang ada di Amazon. Lebay sih gue !



Setelah puas mendayung, tak puas rasanya meninggalkan tempat ini tanpa menanam beberapa pohon Manggoove yang ada ditempat ini. Sedikit merogoh kocek sih, tapi kepuasaan yang diterima tak bisa dinilai dari uang yang dikelurkan.. asek aseekk.

Walaupun sebenarnya gue gak ikutan menanam sih..

Kebetulan gue menemukan sesuatu hal yang unik, yaitu ada plang 'mantan' SMA gue. Well, sedikit narsis not bad lah ya. 

Abaikan orangnya, Fokus sama plangnya
Kakak bangga punya adik-adik kelas seperti kalian.. Fix Lebay !!

Harga sewa perahu dan menanam Mangrove
  1. Paket menanam mangrove: Rp 150.000/orang
  2. Paket menanam mangrove dengan papan nama: Rp 500.000/orang
  3. Sewa perahu: Rp 250.000/6 orang/perahu
  4. Sewa perahu: Rp 350.000/8 orang/perahu
  5. Sewa kano/perahu dayung: Rp 100.000/45 menit

Tambahan:

Gaya banget neng

Mushollah di atas air

Jalan setapak menuju ke penginapan

Jalan setapak menuju menara burung dan jembatan besar


Sepatu gue yang kece

Jembatan Besar


More information:

Alamat Kantor: Jl. Loka Indah 4B, Warung Buncit, Jakarta Selatan
Telp: 08158030933 - 0811804579 - 021-29033066 - 021-290333055
Email: twaangkekapuk@yahoo.com
Situs Web: www.jakartamangrove-resort.com

Saran gue:
Kepada 'anak-anak,bapak-bapak,ibu-ibu,om,tante' alay please jangan buang sampah sembarangan, karena cukup merusak pemandangan disekitar pohon manggrove. Dan lagi jangan mencoret nama-nama kalian di pohon atau fasilitas wisata, sudah dipastikan semua itu akan merusak keindahan taman wisata.
Begitulah perjalanan gue seharian disana, puas dan seru abis deh pokoknya. Kapan lagi ketempat wisata yang bagus dan pastinya di sekitar Jakarta. Mungkin suatu saat akan jadi next trip bagi good readers selanjutnya. 

Semoga bermanfaat, see you on the next article guys. I love you...

Back to Nature to Madura

Hello good readers, genki desu ka?

Udah lama nih enggak exist di blog kesayangan, pasti pada nanyain ya gue kemana? Pastinya pada kangen bercampur cemas kan? Emang sih gue orangnya selain imut juga ngangenin. okehh cukup!

Alasan gue belum posting lagi, karena beberapa dekade yang lalu gue sedang menjalani masa liburan kuliah. Setelah 'bermumet-mumet' dengan soal-soal kalkulus yang ternyata lebih abstract dari wajah mantan. Well, saat itu juga gue memutuskan untuk ikut kakak gue ngebolang.

..Madura..

Ya, itulah tempat yang gue tuju kali ini. Berjarak sekitar kurang lebih 900 KM dari Jakarta. Memakan waktu sekitar 16 jam jika menggunakan bus. 9 jam dengan menggunakan kereta, turun di stasiun pasar turi dan transit dengan angkutan umum ke Madura. Sedangkan, 1 jam 30 menit menggunakan pesawat dari Jakarta menuju bandara Trunojoyo di Sumenep.

Jika lewat jalur darat kalian akan berjumpa dengan pemandangan yang sangat amajiiing bin ajib. Dengan panjangnya yang mencapai 5,438 M, berdiri tegak menantang nan kokoh, yaitu jembatan 'Suramadu'. Jembatan yang menghubungkan antara pulau jawa dan madura ini, menjadikannya jembatan terpanjang di Indonesia saat ini.


Madura, tempat yang jarang jadi tujuan wisata ini menyimpan banyak keindahan didalamnya. Alasan kenapa tempat wisata di Madura kurang terkenal, mungkin karena sistem adat dan keagamaan yang masih sangat kental... 

...Sekental cinta kuhh pada mu. Aseekkk..

Intinya selama gue disini jarang banget bahkan tak pernah melihat seorang bule sekalipun. Katanya sih, emang para ulama di madura masih belum setuju dengan kehadiran orang asing, terutama orang bule.

Bahkan konon katanya nih, tidak ada satu pun gereja di Madura, karena memang mayoritas orang madura adalah orang islam dan keislamanya tidak usah diragukan. Tapi, sekarang sudah mulai ada gereja disana, mungkin sifat toleransi beragama sudah mulai tumbuh disana. 

" Kak, ini orang madura pada abis sunatan ya? Pada make sarung semua" tanya gue.
"Swiiingggg, bruakkkk" pukulan sayang tepat bersarang di muka imut gue.
"Bukan abis sunatan, emang adatnya kayak gitu!!!" jawab kaka gue dengan sinis.

Hmm... Saat itu juga gue berfikir kalau orang madura ikutan lomba main bola pakai sarung pasti menang... Hmmm

Pokoknya sepanjang mata memandang kalian akan melihat sarung-sarung liar berkeliaran. Baik itu dipasar, orang naik motor, kang parkir, semunyalah pokoknya. Kecuali pegawai and pak pocis ya, ya kali pocis pake sarung.. Hadeeh..

Banyak sekali pondok pesantren di pulau madura ini, bahkan rata-rata orang Madura adalah lulusan pondok pesantren. Oleh karena itu, enggak usah shock liat orang Madura hafal yasin. Orang yang hafal Al-Quran aja berceceran banyaknya. 
Penunjuk arah menuju salah satu makam yang dikeramatkan.
Dikarenakan agama yang masih cukup kental, gue sering melihat banyak makam yang dikeramatkan. Baik itu makam para wali, kyai, dan lainnya, pokoknya makam-makam orang alim dan sakti mandraguna pada jaman dulu. Karena gue gak dibolehin untuk foto makamnya, takut fotonya blur atau terjadi sesuatu, jadi gue foto plang-nya aja ya sebagai oleh-oleh.

Konon katanya disalah satu jalan dekat tempat gue menginap, ada sebuah jalan yang tak bisa dilewati tanpa izin. Orang penunggan kuda ataupun pesepeda ketika melewati jalan itu akan mental atau terjatuh, karena jalan tersebut hanya bisa dilewati dengan berjalan ataupun seizin para ulama di sekitar daerah tersebut. 
Karena gue bukan holiday di kotanya, sesuai dengan tema kali ini yaitu 'Back to Nature'. So, mau gak mau ya gue hidup di pedalaman Madura, tapi gak terlalu pedalaman juga sih. Let's enjoy this holidayyy...

Bentangan persawahan dan ladang jagung pun seakan telah menyambut gue. Dengan pemandangan yang hijau nan asri, membuat gue melupakan sejenak suntuknya kehidupan kota. Menyegarkan diri dengan udara yang segar untuk dihirup dan memanjakan mata yang selama ini diisi dengan layar laptop berganti menjadi layar tumbuhan hijau yang membentang.
Blackberry khas madura yang langsung dipetik dari pohonnya.
Selama gue disini banyak banget tumbuhan yang gue temuin dari buah-buahan sampai sayur-mayur semua lengkap ada disini. Well, gak usah takut kelaparan, ada buah tinggal sikaaat. Tapi numpang-numpang dulu ya, tar yang ada abis makan malah modar lagi...


Nasib ayam kampung
Bahkan, gue makan ayam kampung, asliii langsung dari ayam yang lagi enak-enak lari kesana kesini bercanda dan kongko-kongko dengan kawan-kawan satu genknya. Tiba-tiba langsung ditebas dan berakhir di tungku kuali. Mungkin kalau ayam bisa ngomong mereka udah demo dan berunjuk rasa saat itu. 
Jagung, kelapa maupun tumbuhan lain terlihat lebih pendek dibandingkan yang biasa gue lihat. Itulah istimewanya tumbuhan disini, walaupun pendek, buahnya telah masak. Pohon kelapa setinggi 2 meter saja sudah dapat dipanen buahnya. Selain itu, selama perjalanan sering kali gue melihat pohon lontar, bahkan buah yang jatuh dan membusuk tak dihiraukan orang. 

Mungkin kalau di Jakarta udah diambil and dijual-jualin kali di emperan jalan...

Para penduduk yang terlihat dari kejauhan sedang mengarit rerumputan untuk mengumpulkan pakan sapi. Sedangkan yang lain sibuk mengumpulkan ranting-ranting pepohonan sebagai bahan bakar memasak mereka. Ya, penduduk sini kebanyakan masih menggunakan kompor berbahan bakar kayu.

Penduduk disekitar sini sangatlah ramah, walaupun kalian orang asing mereka akan menyapa. Bahkan, gue lagi markirin motor duduk-duduk dipinggir jalan, tiap orang lewat pasti nyapa gue. Serasa orang famous sih disini. Bahasa permisi orang sini adalah 'pamit' atau disingkat 'amit', terkadang gue iseng ngomong 'amit-amit'...hehe

Disela-sela perjalanan gue melihat suatu tempat yang cukup menarik. Yups, itu adalah sumur yang berada di tepi jalan. Kenapa bisa ada sumur?
Selain menggunakan sumber mata air, penduduk asli sini memanfaatkan sumur sebagai sumber air bersih. Well, siapa tahu ada rejeki nomplok lihat bidadari cantik lagi mandi di sumur, sembari menyiprat-nyipratkan air dan bercanda ria dengan suara yang lugu nan menggemaskan, dengan rambut yang digerai tertiup angin seperti di iklan-iklan shampoo  di tv...

...Tetapi kenyataan pahit yang gue lihat adalah bapak-bapak dengan kumis tebel sedang bercanda ria nan menjijikan, sedang memandikan anaknya...

Okay, lupakan tentang bapak-bapak kumisan tadi. Selama di perjalanan gue sering menjumpai orang-orang yang lanjut usia, bahkan terbilang udah sangat tua. Ya, you know lah orang kampung, makanan masih alami, tiap hari kerjaannya jalan, gimana gak panjang umur. Bahkan, gue masih sering melihat lansia yang sedang mengarit rumput atau mengumpulkan kayu bakar. Emang orang-orang sini pada gak bisa diem, padahal udah tua masih aja gerak. Gue aja kewalahan ngikutinnya.

Untuk umur gak usah ditanya mereka bener-bener udah lupa sama umur, saking tuanya kali ya, pokoknya mereka hidup dari jaman belanda masih menginvasi Indonesia, itulah yang mereka ingat. Sedangkan untuk bahasa sendiri jangan harap ngomong bahasa Indonesia, mereka gak akan ngerti, namanya orang tua.

...Disinilah saatnya menggunakan keahlian bahasa gue yaitu bahasa tubuh...



Inilah penampakan rumah-rumah penduduk disini, tembok bilik dengan lubang-lubang kecil yang dijadikan pelindung ketika malam tiba, dengan genteng-genteng tua sebagai pelindung ketika hujan turun. Ya itulah indahnya rumah-rumah tradisional yang ada disini. 

Setiap rumah yang ada disini memiliki lahan yang luas, karena yang tinggal lebih dari satu kepala keluarga, istilahnya berkelompoklah. Ditambah lagi, setiap rumah memilik 'Langgar' ya semacem mushollah gitu deh, selain untuk sholat langgar digunakan untuk berkumpul.  

Penampakan Kamar mandi penduduk disini
Hebatnya lagi setiap rumah kamar mandinya berada diluar, karena dapat digunakan secara bersama-sama. Istilahnya seperti kamar mandi umum lah. Uniknya kamar mandi ini tidak termasuk toilet, toilet terpisah agak jauh dari kamar mandi, letaknya di sekitar semak belukar. Yak, tepat, toiletnya berupa 'kakus' you know lah kakus bentuknya gimana...
Anak sapi
Harta orang sini adalah sapi atau dalam bahasa madura 'sapeh'. Hampir setiap rumah yang gue lewati memiliki kandang-kandang untuk memelihara salah satu hewan qurban ini. Tau sendiri harga seekor sapi satunya bisa seharga motor ninja. 


Selain menjadi petani, tentunya pekerjaan sampingan penduduk sekitar sini adalah membuat kerajinan batu bata. Dengan pengolahannya yang masih sangat sederhana, batu bata ini dapat dijual seharga Rp 500 perak satunya, lebih mahal dari yang ada di Jakarta tentunya. Karena batu bata yang ada disini jauh lebih besar, ketimbang yang sering kita lihat. Batu bata ini dijadikan sampingan oleh warga sini..

...itung-itung sampingan lah untuk credit mobil.. 
Satu lagi yang gue kagumin dari orang-orang yang ada disini adalah mental dan nyali mereka, bayangkan berjalan sendirian di tengah semak belukar bahkan bisa dibilang hutan. Kalau siang sih it's oke, kalau malam tanpa ada penerangan hanya bermodal senter dan clurit, mereka keluar untuk menghadiri pengajian atau hanya sekedar berjalan ke masjid ataupun warung.

Kalau gue mah udahnya nyerah dan melambaikan tangan kali, disuruh keluar malam-malam. Hayatiiii atut banggggg....



Selama disana gue iseng-iseng berjalan kesana kemari, alhasil gue tersesat disuatu dataran tinggi. Madura memiliki banyak dataran tinggi, bisa dibilang bukit. Kalau gunung kayaknya gak ada sih. Tapi pemandangan dari atas sini ga jauh beda dari puncak bogor.

Hanya saja udaranya tetaplah panas, itulah yang membuat gue penasaran, walaupun berada di atas bukit udaranya tetaplah panas. Kalau kalian merasa Jakarta udah panas, silahkan datang ke Madura dan nikmati hangatnya matahari yang terasa sampai ke ubun-ubun.


Katanya, jaman dahulu Madura ini adalah daratan yang ada didalam laut, dengan proses ini itu yang rempong, akhirnya dataran ini muncul ke permukaan. Teori ini bisa dibuktikan, masih ditemukannya batuan yang menyerupai terumbu karang yang berada di puncak-puncak bukit. Itu sih yang gue lihat selama berada di atas bukit sini. Jadi kalau dipikir-pikir teori itu masuk akal... 

...seperti biasa, sok tau aja sih gue.


Ya, itulah perjalanan selama gue di Madura, intinya banyak pelajaran yang gue ambil dari liburan kali ini. Pokoknya Madura mengajarkan gue banyak hal yang tak bisa gue temukan di kota-kota besar. Pengalaman berharga selama disini bakalan terus gue ingat dan jadi acuan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Terkadang menjadi tradisional itu perlu di jaman yang sudah serba modern ini.


Bonus rujak khas Madura, masih super alami bahan-bahannya.
See you on the next article guyss. I love youuu.

"sometimes we have to look down to appreciate what god has given to us. Sometimes, Being simple teach us a lot of things to be a good person"